Kini, masyarakat dunia semakin disuguhi informasi yang beragam, namun tak semua seobjektif kelihatannya. Sebuah laporan terbaru menguak bagaimana narasi-narasi penting digulirkan, mulai dari bahaya kecerdasan buatan (AI) hingga konflik geopolitik, seringkali dengan agenda tersembunyi.
Di satu sisi, industri AI kerap menimbulkan "kepanikan" dengan peringatan akan potensi bahayanya. Ironisnya, para pengembang dan raksasa teknologi yang menyuarakan alarm ini justru tidak mengubah praktik mereka. Al Jazeera menyoroti, perdebatan AI cenderung ekstrem, antara janji muluk dan ketakutan berlebihan, membuat publik sulit memahami kompleksitas teknologi ini. Pada akhirnya, media malah luput menggali dampak AI dalam kehidupan sehari-hari, serta bagaimana 'perang narasi' ini menguntungkan perusahaan teknologi besar.
Tak hanya di ranah teknologi, strategi penggiringan opini juga terlihat jelas dalam isu geopolitik. Contoh paling mencolok adalah kasus Francesca Albanese, pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki. Ia menjadi target 'serangan' politik setelah video manipulasi yang menuduhnya menyebut Israel "musuh kemanusiaan" viral. PBB sendiri menegaskan, ini bagian dari kampanye hitam yang terencana untuk mendiskreditkan Albanese dan institusi PBB.
Di balik insiden ini, terungkap strategi jitu Israel yang telah berlangsung puluhan tahun. Pemerintah dan organisasi pro-Israel aktif mensponsori perjalanan politisi, selebriti, dan jurnalis ke Israel. Tujuan? Menggambarkan "kisah nyata" Israel. Pasca-7 Oktober, fokus strategi ini bergeser signifikan, kini menyasar jurnalis dan influencer media sosial dari Afrika. Ini bukan tanpa alasan. Tujuannya jelas, yakni membentuk pemberitaan di media-media Afrika dan memengaruhi pandangan audiens di seluruh benua tersebut. Laporan Nic Muirhead dari The Listening Post Al Jazeera mengungkap lebih dalam kunjungan yang dibiayai penuh dan diatur ketat ini.
Kondisi ini menunjukkan betapa krusialnya literasi media. Di era informasi berlimpah, penting bagi masyarakat untuk kritis menyaring setiap narasi. Sebab, di balik setiap "kabar panas," bisa jadi ada dalang yang sengaja membentuk opini demi kepentingan tertentu, mempengaruhi persepsi kita tentang teknologi masa depan hingga konflik global.