Washington, DC - Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah drone laut berhasil melakukan misi penyelamatan manusia. Kapal tanpa awak itu mengevakuasi dua prajurit Amerika yang helikopter Apache-nya ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz, Oman, pekan ini.
Menurut Komando Pusat AS (Centcom), kedua prajurit itu selamat dan dalam kondisi stabil setelah diselamatkan dalam waktu sekitar dua jam. Insiden ini terjadi di perairan berbahaya yang sebagian besar telah diblokade sejak perang dengan Iran dimulai.
Drone yang digunakan bernama 'Corsair', buatan perusahaan Texas, AS. Ukurannya sebesar perahu nelayan dengan panjang 7,3 meter, mampu membawa beban 450 kg, dan melaju hingga 40 mil per jam. Kapal ini dilengkapi kamera 360 derajat, radar, dan sensor radio untuk intelijen.
Menariknya, drone ini biasanya dipakai untuk deteksi ranjau atau pengintaian. Namun karena lokasinya dekat dan kemampuannya mumpuni, kapal ini dikerahkan untuk misi berbahaya yang tidak bisa dilakukan kapal atau helikopter berawak karena risiko ditembak musuh.
Pakar militer meyakini drone ini dioperasikan secara manual dari jarak jauh menggunakan joystick oleh operator di pangkalan. Ini membuktikan bahwa teknologi drone laut tidak hanya berguna untuk perang, tetapi juga untuk misi kemanusiaan di zona konflik.
Keberhasilan ini menjadi titik balik strategi militer AS di Timur Tengah, di mana penggunaan robot tempur semakin masif untuk mengurangi risiko korban jiwa.