Pyongyang kembali menyita perhatian dunia setelah pemimpinnya, Kim Jong Un, menggelar parade militer kolosal. Acara ini menjadi penutup Kongres Partai Buruh yang bersejarah, digelar lima tahun sekali, sekaligus menjadi panggung unjuk kekuatan terbaru dari Korea Utara.
Di tengah gegap gempita parade tersebut, Kim Jong Un menyampaikan pernyataan penting. Ia dengan tegas menutup pintu dialog atau negosiasi dengan Korea Selatan. Namun, sinyal berbeda justru diberikan kepada Amerika Serikat. Kim menyebut kerja sama dengan Washington masih mungkin terjalin, asalkan AS menunjukkan rasa hormat yang semestinya kepada Pyongyang.
Parade militer raksasa ini bukan sekadar tontonan, melainkan pesan kuat dari Pyongyang. Umumnya, parade semacam ini dipakai untuk memamerkan persenjataan terbaru, termasuk rudal balistik canggih, yang kerap memicu kekhawatiran global. Penutupan dialog dengan Seoul berpotensi memperkeruh ketegangan di Semenanjung Korea. Sementara itu, tawaran dialog bersyarat kepada AS bisa jadi upaya Kim untuk menjajaki hubungan di bawah pemerintahan Joe Biden, mencari pengakuan dan mungkin pelonggaran sanksi ekonomi yang sangat membebani. Kongres Partai Buruh sendiri merupakan ajang konsolidasi kekuasaan dan penentuan arah kebijakan nasional Korea Utara untuk lima tahun ke depan, menjadikan setiap pernyataan Kim di momen ini sangat krusial.