IRAN BERDARAH: 2000 TEWAS, SELAT HORMUZ JADI KARTU MATI! - Berita Dunia
← Kembali

IRAN BERDARAH: 2000 TEWAS, SELAT HORMUZ JADI KARTU MATI!

Foto Berita

Serangan udara yang diduga kuat dilancarkan oleh AS-Israel terus menghantam Iran, menewaskan sedikitnya enam orang di Qom dan menyebabkan ledakan masif di ibu kota Tehran. Data terbaru menunjukkan, korban tewas akibat konflik di Iran telah mencapai hampir 2.000 jiwa dalam kurun waktu kurang dari sebulan, dengan puluhan ribu lainnya terluka. Ironisnya, di tengah kondisi memilukan ini, perundingan gencatan senjata masih menemui jalan buntu.

Gelombang serangan udara terkonsentrasi di beberapa kota penting Iran. Di Qom, tiga rumah warga menjadi sasaran pada Jumat lalu, merenggut nyawa enam orang. Sementara itu, Tehran diwarnai ledakan dahsyat dan aktivasi sistem pertahanan udara setelah militer Israel mengklaim menargetkan infrastruktur kepemimpinan Iran. Tidak hanya itu, sebuah kompleks permukiman di Urmia juga luluh lantak akibat serangan rudal, menyebabkan korban jiwa dan luka. Serangan serupa dilaporkan juga terjadi di Karaj dan kompleks industri Isfahan.

Kementerian Kesehatan Iran mengungkapkan, total 1.937 orang tewas dan hampir 25.000 lainnya terluka. Data ini mencakup 240 wanita dan 212 anak-anak. Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) menggambarkan kondisi warga Iran yang 'kelelahan dan trauma', jutaan di antaranya terpaksa mengungsi. Jan Egeland, kepala NRC, menyebut lebih dari separuh dari 2.700 korban tewas akibat serangan di seluruh Timur Tengah berada di Iran, menandakan warga sipil membayar harga tertinggi atas perang ini.

Situasi kian rumit dengan negosiasi gencatan senjata yang belum menemui titik terang. Iran sendiri telah mengajukan sejumlah syarat berat, termasuk tuntutan ganti rugi, jaminan tidak terulangnya perang, penghentian “aksi pembunuhan agresif”, serta pengakuan haknya atas Selat Hormuz. Selat strategis ini, yang saat ini diblokir Iran, telah memicu krisis pasokan bahan bakar global. Ketegangan yang tak kunjung mereda ini menunjukkan konflik masih jauh dari mereda, dengan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang semakin meluas hingga ke skala global.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook