Dingin menusuk tulang di Ukraina diperparah dengan gempuran rudal dan drone Rusia yang kembali menyasar infrastruktur energi vital negara itu. Padahal, sebelumnya sempat beredar kabar Presiden Rusia Vladimir Putin setuju menghentikan serangan serupa. Namun, kenyataannya berkata lain, Kiev dan Kharkiv kini justru kembali gelap gulita.
Serangan masif ini meluncur pada Selasa lalu, di tengah suhu minus 20 derajat Celsius yang membekukan. Sebanyak 71 rudal dan 450 drone dikerahkan, menghantam jaringan listrik dan pemanas. Padahal, beberapa hari sebelumnya, situasi di Kiev sempat membaik dengan berkurangnya jumlah gedung tanpa pemanas dari 3.500 menjadi sekitar 500 saja. Kini, warga Ukraina, terutama di Kiev, harus kembali bersiap menghadapi pemadaman listrik total.
Menteri Energi Ukraina Denys Shmyhal mengungkapkan, Rusia sudah 217 kali menargetkan infrastruktur energi sepanjang tahun ini. Sebanyak 200 kru darurat pun sibuk memulihkan listrik untuk 1.100 bangunan di Kiev saja. Sayangnya, pertahanan udara Ukraina hanya berhasil menembak jatuh 38 rudal dari total 71 yang diluncurkan, lantaran mayoritas adalah rudal balistik yang sulit dicegat.
Yang menjadi sorotan adalah klaim dari mantan Presiden AS Donald Trump pada 29 Januari lalu, yang menyebut Putin setuju menangguhkan serangan infrastruktur energi selama seminggu atas permintaannya. Klaim ini bahkan sempat dikonfirmasi oleh Kremlin. Namun, serangan besar-besaran pada Selasa menunjukkan janji tersebut tak berlaku, atau setidaknya, sangat singkat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pun geram, menyatakan, βEntah Rusia kini berpikir seminggu itu kurang dari empat hari, atau mereka memang hanya bertaruh pada perang.β
Insiden ini bukan hanya soal listrik mati. Dampaknya sangat fatal bagi warga sipil. Setidaknya dua pemuda berusia 18 tahun tewas di jalanan Zaporizhzhia. Sebelumnya, pada 1 Februari, belasan penambang juga kehilangan nyawa akibat drone yang menghantam bus mereka di wilayah Dnipro. Di tengah gencatan serangan energi yang singkat itu pun, Rusia justru fokus menargetkan logistik dan memperluas jangkauan drone-nya hingga 50 kilometer dari garis depan.
Kehadiran Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Kiev saat serangan terjadi juga menjadi simbol dukungan Barat, sekaligus menunjukkan betapa gentingnya situasi ini. Serangan yang terus-menerus terhadap infrastruktur sipil, terutama di tengah musim dingin ekstrem, jelas merupakan strategi Rusia untuk melumpuhkan moral dan kapasitas Ukraina. Ini menciptakan krisis kemanusiaan yang parah, menunjukkan bahwa upaya diplomasi masih sangat rapuh dan sulit dipercaya.