Gelombang demonstrasi pelajar di Prancis semakin memanas. Ribuan siswa sekolah menengah atas (SMA) turun ke jalan memblokir sekolah dan berhadapan dengan aparat kepolisian. Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam terhadap pemerintah yang dinilai lamban dalam memperbaiki sistem pendidikan.
Kerusuhan tidak hanya terjadi di Paris, tetapi telah menyebar ke kota-kota besar seperti Marseille, Nantes, Lyon, Strasbourg, dan Rennes. Polisi terpaksa menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang membakar jalanan dan melempar proyektil. Situasi ini memuncak setelah insiden tragis di mana seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan tangannya akibat ledakan granat polisi saat kerusuhan berlangsung.
Serikat pelajar mencatat hampir 2.000 sekolah terpaksa diliburkan atau diblokir. Menariknya, aksi ini tidak hanya diikuti pelajar, tetapi juga serikat guru, pekerja energi, hingga petani. Mereka menuntut perbaikan fasilitas sekolah yang rusak, penggantian guru yang tidak kompeten, serta perubahan jam belajar. Perdana Menteri Sebastien Lecornu berjanji akan menampung aspirasi ini, namun publik ragu mengingat kondisi keuangan negara yang sedang krisis utang.