Isu kepemilikan senjata nuklir Israel yang selama ini bak rahasia umum, kini kembali mencuat menjadi sorotan serius di kancah global. Para analis memperingatkan, ambang batas penggunaan senjata pemusnah massal itu dinilai sangat rendah dan berbahaya, terutama di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas.
Meskipun Israel tak pernah secara resmi mengakui kepemilikan senjata nuklir, banyak pakar keamanan internasional meyakini negara tersebut menyimpan sekitar 80 hulu ledak nuklir. Kemampuan ini didukung dengan sistem peluncur canggih, mulai dari pesawat tempur hingga rudal balistik. Kebijakan 'nuclear opacity'—tidak membenarkan maupun menyangkal—memang telah membuat komunitas internasional cenderung menghindari pembahasan terbuka soal ini selama beberapa dekade.
Namun, situasi kini berbeda. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin memanas. Apalagi, Iran baru-baru ini dilaporkan melancarkan serangan ke kota Dimona, yang dikenal sebagai lokasi fasilitas nuklir kunci Israel. Kejadian ini menjadi sinyal jelas bahwa Iran memiliki kapasitas untuk membalas, sekaligus menyoroti potensi kerentanan situs strategis Israel.
Doktrin strategis Israel telah lama didominasi oleh ketakutan akan ancaman eksistensial. Berbeda dengan negara-negara nuklir lain yang umumnya mengutamakan efek gentar (deterrence) terhadap kekuatan nuklir lainnya, Israel memandang senjata nuklir sebagai opsi terakhir untuk bertahan hidup jika perang berbalik arah secara drastis. Konsep ini sering disebut sebagai 'Opsi Samson', di mana Israel berpotensi menggunakan nuklir jika menghadapi kekalahan total, bahkan dari negara non-nuklir sekalipun.
Dengan memanasnya berbagai front konflik di Gaza, Lebanon, Suriah, hingga Iran, kemungkinan pecahnya perang multi-front semakin nyata. Kondisi ini membuat doktrin 'Opsi Samson' menjadi sangat mengkhawatirkan. Jika Israel benar-benar merasa terpojok dan eksistensinya terancam, tekanan untuk menggunakan senjata nuklir akan jauh lebih besar, membawa potensi bencana regional yang tak terbayangkan. Komunitas internasional yang selama ini cenderung diam terhadap status nuklir Israel kini dituntut untuk lebih proaktif, mengingat potensi eskalasi konflik yang dapat mengubah tatanan keamanan global secara fundamental.