TRUMP TANDATANGANI KESEPAKATAN DENGAN IRAN, AKHIRI PERANG? - Berita Dunia
← Kembali

TRUMP TANDATANGANI KESEPAKATAN DENGAN IRAN, AKHIRI PERANG?

Foto Berita

Washington, D.C. – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Iran yang berisi 14 poin. Kesepakatan ini bertujuan mengakhiri konflik bersenjata yang pecah pada 28 Februari lalu, setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Teheran dan sejumlah kota di Iran.

MoU ini menjadi dasar untuk negosiasi lebih lanjut mengenai program nuklir Iran. Namun, isinya langsung menuai kritik karena dianggap terlalu samar. Banyak pihak membandingkannya dengan Perjanjian Nuklir 2015 atau JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) yang dulu dibatalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.

Menurut dokumen yang dibacakan Gedung Putih, Iran kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Akan tetapi, berbeda dengan JCPOA yang sangat teknis dan ketat, MoU ini tidak menyebutkan secara detail batasan pengayaan uranium. Padahal, sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026, Iran diperkirakan memiliki 440 kg uranium yang sudah diperkaya hingga 60%—hanya selangkah lagi menuju level 90% yang dibutuhkan untuk hulu ledak nuklir.

JCPOA dulu membatasi stok uranium Iran hanya 300 kg dengan tingkat pengayaan maksimal 3,67%. Ketika AS keluar dari JCPOA pada 2018, Iran pun lepas kendali dan mempercepat program nuklirnya. Kini, MoU yang baru hanya menyebut akan ada diskusi soal pengayaan dan penyelesaian stok bahan yang sudah diperkaya—tanpa jaminan pasti bahwa bahan-bahan itu akan dimusnahkan atau dibawa keluar dari Iran seperti klaim awal para pejabat AS.

Dampak dan Analisis: Kesepakatan ini menimbulkan tanda tanya besar. Di satu sisi, gencatan senjata menghentikan pertumpahan darah. Namun di sisi lain, banyak analis khawatir ini hanya 'ganti baju' dari kegagalan JCPOA. Tanpa mekanisme pengawasan ketat seperti yang dulu dilakukan IAEA (Badan Energi Atom Internasional), Iran bisa tetap mempertahankan kemampuan nuklirnya secara diam-diam. Situasi ini juga memicu ketidakpastian di pasar minyak global, terutama terkait akses bebas melalui Selat Hormuz—jalur vital pengangkutan minyak dunia.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook