Kontroversi besar mengguncang sepak bola Afrika! Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) resmi mencopot gelar juara Piala Afrika (AFCON) milik Senegal dan kini memberikannya kepada Maroko. Keputusan mengejutkan ini menyusul insiden di final dua bulan lalu, di mana pemain Senegal melakukan protes dengan meninggalkan lapangan setelah wasit memberikan penalti untuk Maroko. Meski penalti itu gagal dieksekusi, CAF menganggapnya sebagai tindakan pengunduran diri dan mengubah skor kemenangan Senegal 1-0 menjadi kekalahan 0-3.
Pemerintah Senegal tak tinggal diam. Juru Bicara Pemerintah, Marie Rose Khady Fatou Faye, dengan tegas menolak keputusan CAF, menyebutnya 'mengikis kredibilitas' dan 'upaya perampasan tak beralasan'. Lebih jauh, Senegal mendesak adanya 'penyelidikan internasional independen' terkait dugaan korupsi di internal CAF. Hingga saat ini, CAF belum memberikan tanggapan resmi mengenai tudingan serius tersebut.
Untuk membela haknya, Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) memastikan akan membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Lausanne. FSF mengecam keputusan CAF sebagai 'tidak adil, belum pernah terjadi, dan tak dapat diterima' karena dianggap 'menodai sepak bola Afrika'. Konflik ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Perdana Menteri Senegal, Ousmane Sonko, juga mengecam penahanan 18 suporter Senegal di Maroko pasca kericuhan di final tersebut, menyiratkan bahwa masalah ini 'melampaui batas olahraga' dan disayangkan mengingat kedua negara dikenal sebagai sahabat.