Perdana Menteri India, Narendra Modi, baru-baru ini melawat ke Israel selama dua hari, sebuah kunjungan yang disambut hangat oleh mitranya, Benjamin Netanyahu. Kunjungan ini, yang menjadi yang kedua kalinya bagi PM India, menandai semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara, bahkan diwarnai dengan julukan 'saudara' dari Netanyahu kepada Modi.
Dalam lawatannya, kedua pemimpin sepakat memperdalam kerja sama di berbagai bidang, termasuk inovasi dan pertanian. Modi bahkan menjadi pemimpin India pertama yang berpidato di Parlemen Israel, Knesset, di Yerusalem. Di sana, ia menegaskan posisi India: 'India berdiri teguh bersama Israel, dengan keyakinan penuh, saat ini dan seterusnya.'
Modi menyampaikan belasungkawa mendalam atas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, menyebutnya sebagai 'serangan teroris biadab'. Ia juga menyamakan insiden tersebut dengan serangan Mumbai 2008 yang dituding India dilakukan oleh Pakistan, seraya menyatakan, 'Kami punya kebijakan tanpa toleransi terhadap terorisme, tanpa standar ganda.' Lebih lanjut, Modi terang-terangan mendukung rencana perdamaian Gaza 20 poin yang diinisiasi oleh mantan Presiden AS Donald Trump, demi stabilitas kawasan.
Namun, di balik jabat erat dan dukungan penuh ini, kunjungan Modi disorot karena 'kesunyiannya' terkait situasi di wilayah Palestina yang diduduki. Sepanjang kunjungannya, tidak ada satu pun pernyataan yang menyinggung konflik yang sedang berlangsung di Gaza, tempat tentara Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina sejak Oktober 2023. Hal ini cukup kontras dengan sejarah panjang India yang secara tradisional mendukung perjuangan Palestina, bahkan sempat menentang pembentukan Israel pada 1948 dan baru meresmikan hubungan diplomatik pada 1992. Kebijakan luar negeri India di bawah PM Modi, terutama sejak 2014, memang menunjukkan pergeseran signifikan, dengan hubungan yang semakin erat dan berpondasi pada kerja sama pertahanan serta kesamaan pandangan nasionalis.