Glasgow, Inggris - Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, menyoroti peran besar media sosial dalam memicu polarisasi politik dan sosial di dunia saat ini. Dalam sebuah sesi dialog di hadapan 12.150 orang di OVO Hydro, Glasgow, Skotlandia, Obama menilai bahwa platform digital telah bergeser dari alat pemersatu menjadi mesin penyebar kemarahan dan ketakutan.
Obama mengenang masa kampanyenya pada 2008, di mana ia melihat teknologi sebagai mercusuar harapan. Namun, ia menyadari bahwa alat yang sama yang mampu memobilisasi gerakan demokrasi juga bisa disalahgunakan oleh kelompok kebencian. Menurutnya, algoritma media sosial saat ini cenderung 'memancing' sisi primitif otak manusia yang sangat tertarik pada emosi negatif seperti kemarahan, kebencian, dan rasa terancam.
Dalam acara yang merupakan bagian dari tur pidatonya di Inggris tersebut, Obama menegaskan bahwa pergeseran menuju ekstremisme bukanlah hal yang tidak terhindarkan. Ia membandingkannya dengan era pasca Perang Dunia II, di mana pemerintah saat itu sepakat membuat aturan untuk membendung propaganda dan hoaks yang dapat memicu kekerasan. Sayangnya, menurut Obama, saat ini dunia justru enggan mengambil langkah serupa.
Ia juga menyoroti tantangan baru yang datang dari kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini dinilai akan semakin mempersulit masyarakat dalam membedakan fakta dan fiksi, yang berpotensi melumpuhkan fungsi demokrasi. Obama menekankan perlunya keseimbangan kritis antara kebebasan berbicara dan regulasi untuk menjaga kesehatan iklim informasi publik.
Analisis Dampak: Pernyataan Obama ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat global, termasuk Indonesia, tentang bahaya 'banjir informasi' yang tidak terfilter. Bagi masyarakat umum, ini adalah ajakan untuk lebih kritis dalam mengonsumsi konten digital dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memecah belah. Bagi pembuat kebijakan, ini adalah sinyal urgensi untuk memperkuat literasi digital dan regulasi platform agar ruang digital tidak menjadi lahan subur bagi ekstremisme.