KUALA LUMPUR - Malaysia mengambil langkah diplomatik besar dengan menerima kunjungan kenegaraan Presiden Myanmar, Min Aung Hlaing. Kunjungan dua hari ini menjadi yang pertama sejak ia resmi menjabat pada April lalu, menandai upaya Myanmar untuk kembali diterima di panggung internasional setelah terisolasi akibat kudeta 2021.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menegaskan komitmennya untuk membantu Myanmar kembali bergabung dengan ASEAN. "Kami akan melakukan apa pun yang mungkin untuk memastikan Myanmar menjadi bagian dari komunitas bangsa-bangsa, khususnya dalam konteks ASEAN," ujar Anwar dalam konferensi pers di Putrajaya, Kamis (27/2).
Sejak 2021, Myanmar memang dikucilkan dari pertemuan tingkat tinggi ASEAN karena dianggap gagal menjalankan konsensus perdamaian blok tersebut. Selain membahas reintegrasi, kedua pemimpin juga menyinggung soal pemulangan ribuan warga Myanmar yang berada di Malaysia. Anwar menyebut Myanmar telah menerima kembali 10.493 warganya, dan proses ini akan dilakukan secara "sukarela, aman, dan bermartabat".
Namun, langkah Anwar ini menuai kritik tajam dari kelompok hak asasi manusia. Human Rights Watch (HRW) menilai kunjungan ini berisiko melegitimasi kepemimpinan Min Aung Hlaing yang dianggap tidak sah, serta mengkhawatirkan pemulangan paksa pengungsi, termasuk etnis Rohingya, kembali ke negara yang masih dilanda konflik berkepanjangan.