Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi OPEC di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg, Rusia, pada Kamis (6/6/2024). Dalam forum tersebut, ia menyerukan stabilitas pasar energi global yang saat ini terhantam oleh perang di Iran dan Ukraina, yang mendorong harga minyak melonjak drastis.
Pangeran Abdulaziz menekankan bahwa dunia membutuhkan 'setiap molekul energi' dan setiap bentuk stabilisasi. Tanpa keamanan energi, keberlanjutan akan hilang. Ia mengakui banyaknya faktor yang tidak pasti dalam situasi saat ini, di mana realitas bisa berubah dalam semalam.
Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, yang hadir dalam pertemuan tersebut, mengakui ketidakpastian permintaan energi global. Menurut Novak, perkiraan yang dibuat beberapa tahun lalu kini harus direvisi secara fundamental. Ia juga untuk pertama kalinya secara eksplisit mengakui penurunan produksi minyak Rusia akibat pemeliharaan tak terduga di kilang-kilang mereka, yang diduga terkait dengan serangan Ukraina.
Analisis Dampak: Situasi ini menambah kompleksitas kebijakan OPEC+. Di satu sisi, mereka berencana menaikkan target produksi pada Juli mendatang. Namun, di sisi lain, konflik seperti penutupan Selat Hormuz akibat perang AS-Iran dan pemotongan ekspor oleh anggota Teluk membuat rencana tersebut hanya bersifat teoretis. Bagi Indonesia dan negara pengimpor minyak, ketidakstabilan ini berarti ancaman kenaikan harga BBM dan inflasi yang berkepanjangan, mengingat pasar masih bergantung pada keputusan para raksasa minyak ini.