Setiap tanggal 21 Februari, Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati sebagai pengingat akan pentingnya keberagaman linguistik. Namun, perayaan ini juga mengungkap fakta yang cukup bikin miris: dari lebih 7.000 bahasa yang tersebar di seluruh dunia, setidaknya 3.000 di antaranya, atau sekitar 40 persen, kini berada dalam status terancam punah.
Bahasa Inggris masih jadi yang paling banyak penuturnya secara global, dengan sekitar 1,5 miliar orang di 186 negara. Menariknya, hanya dua dari sepuluh penuturnya adalah penutur asli, sisanya menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, ketiga, atau bahkan seterusnya. Di posisi kedua ada Mandarin dengan hampir 1,2 miliar penutur. Meski begitu, kalau dihitung penutur asli, Mandarin justru jadi yang terbanyak di dunia, mengingat populasi Tiongkok yang super besar. Setelah itu menyusul Hindi (609 juta), Spanyol (559 juta), dan Arab Standar (335 juta).
Tak hanya bahasa lisan, skrip atau sistem penulisan juga punya ceritanya sendiri. Dari 293 skrip yang dikenal, sekitar 156 di antaranya masih aktif digunakan hingga kini. Skrip Latin, yang dipakai untuk menulis Bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan banyak lagi, menjadi yang paling populer dan digunakan oleh lebih dari 70 persen populasi dunia.
Kondisi bahasa di dunia terbagi menjadi beberapa kategori: 44 persen atau sekitar 3.193 bahasa terancam punah, 49 persen stabil, dan 7 persen bersifat institusional (digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, dan media). Sebuah bahasa dianggap terancam punah jika penuturnya mulai mewariskan bahasa yang lebih dominan kepada anak-anak di komunitasnya. Ada pula bahasa yang 'tertidur' (dormant), artinya tak ada lagi penutur fasih, tapi bahasa itu masih punya nilai sosial dan identitas. Lebih parah lagi, 454 bahasa sudah 'punah' alias lenyap tanpa sisa.
Mirisnya, sekitar 88,1 juta orang di dunia kini berbicara dalam bahasa yang terancam punah sebagai bahasa ibu mereka. Sebanyak 80 persen dari bahasa-bahasa terancam punah ini terkonsentrasi di hanya 25 negara, dengan Oceania menjadi kawasan dengan jumlah terbanyak, disusul Asia, Afrika, dan Amerika.
Contohnya, di Australia, ada bahasa Aborigin Yugambeh yang sempat terancam. Namun, berkat program revitalisasi yang digerakkan komunitas dan penggunaan aplikasi belajar, bahasa ini kembali dihidupkan untuk generasi muda. Kisah berbeda dialami Ainu (Ainu Itak) di Jepang, yang menurut UNESCO berada dalam status sangat kritis dan sulit dikaitkan dengan rumpun bahasa mana pun.
Hilangnya sebuah bahasa bukan sekadar berkurangnya jumlah kata, tapi juga berarti hilangnya kearifan lokal, sejarah, cara pandang dunia, dan identitas sebuah komunitas. Ini adalah kerugian besar bagi keberagaman budaya global. Upaya seperti yang dilakukan komunitas Yugambeh menunjukkan bahwa harapan selalu ada. Melestarikan bahasa ibu berarti menjaga akar budaya dan warisan tak ternilai yang membentuk kekayaan kemanusiaan kita.