Penyelidikan mendalam tengah bergulir setelah Nurul Amin Shah Alam, seorang pengungsi Rohingya berusia 56 tahun yang hampir buta, ditemukan tak bernyawa di Buffalo, New York. Tragisnya, kejadian ini hanya berselang beberapa hari setelah Petugas Patroli Perbatasan Amerika Serikat (AS) melepaskannya dari penjara dan meninggalkannya sendirian bermil-mil jauhnya dari rumah keluarganya.
Kisah pilu Shah Alam sontak memicu kemarahan publik dan seruan penyelidikan. Mayor Buffalo, Sean Ryan, secara terang-terangan menyebut kematian ini sebagai "tidak manusiawi" dan seharusnya bisa dicegah. Ia mengkritik keras keputusan otoritas imigrasi federal yang dianggap "tidak profesional dan tidak berperikemanusiaan" karena menelantarkan seorang pria rentan—yang hampir buta, tidak bisa berbahasa Inggris, dan tidak paham teknologi—di tengah dinginnya malam.
Menurut keterangan putra Shah Alam, Mohamad Faisal, keluarganya tidak diberitahu lokasi ayahnya ditinggalkan setelah dibebaskan. Shah Alam, yang berasal dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, ditangkap sekitar setahun lalu akibat kesalahpahaman. Dengan penglihatan yang buruk, ia menggunakan tongkat tirai sebagai alat bantu jalan dan tanpa sengaja memasuki properti pribadi. Karena tidak memahami bahasa Inggris saat diperintah polisi, ia ditahan dan baru dibebaskan setelah hampir setahun melalui kesepakatan pembelaan.
Sementara itu, juru bicara Bea Cukai dan Patroli Perbatasan AS membela diri. Mereka mengklaim telah menawarkan "tumpangan gratis" kepada Shah Alam dan ia memilih untuk diantar ke kedai kopi yang dianggap sebagai lokasi "hangat dan aman" di dekat alamat terakhirnya yang diketahui, alih-alih langsung dilepaskan dari kantor patroli. Pihak mereka juga menyatakan Shah Alam tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan, masalah mobilitas, atau disabilitas yang memerlukan bantuan khusus.
Namun, pernyataan ini bertolak belakang dengan kondisi Shah Alam yang diceritakan keluarganya dan keprihatinan banyak pihak. Beberapa anggota DPR AS, termasuk Grace Meng, menuntut investigasi menyeluruh atas insiden ini, menyebutnya sebagai "pelanggaran tanggung jawab dan kemanusiaan dasar yang mengejutkan".
Analisis dan Dampak:
Tragedi ini menyoroti celah besar dalam penanganan imigran dan pengungsi rentan di AS, terutama mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau bahasa. Kebijakan pelepasan dari tahanan tanpa memastikan adanya sistem dukungan atau komunikasi yang memadai dengan keluarga, bisa berakibat fatal. Kasus Shah Alam menjadi cerminan nyata kegagalan sistem untuk melindungi individu yang paling rentan, mempertanyakan kembali standar kemanusiaan dan akuntabilitas lembaga federal dalam menangani populasi pengungsi. Ini juga memicu perdebatan luas tentang sejauh mana tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan individu setelah mereka dibebaskan dari tahanan, terutama dalam kondisi rentan.