Konflik bersenjata di Sudan tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Panglima Angkatan Bersenjata Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, dengan tegas menolak segala bentuk negosiasi dan bersumpah akan merebut kembali 'setiap jengkal' wilayah yang dikuasai Rapid Support Forces (RSF). Pernyataan ini disampaikannya di Merowe, menegaskan bahwa opsi militer akan terus berjalan sampai RSF tersingkir dari Sudan.
Dampak dari eskalasi ini sangat memilukan. Di Kordofan Barat, sedikitnya 10 warga sipil tewas dalam serangan RSF di desa Abu Ajal. Sementara itu, di Negara Bagian Blue Nile, lebih dari 5.500 orang terpaksa mengungsi hanya dalam waktu tiga hari akibat situasi keamanan yang memburuk. Sejak pecah pada April 2023, perang ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa sekitar 13 juta jiwa meninggalkan rumah mereka.
Di tengah kekacauan ini, utusan Presiden AS, Massad Boulos, mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk mengedepankan dialog nasional yang dipimpin oleh rakyat Sudan sendiri. Namun, dengan sikap keras kepala dari kedua belah pihak, prospek perdamaian masih sangat suram. Masyarakat sipil terus menjadi korban utama dari ambisi politik dan militer yang tak berkesudahan.