PILKADA SLOVENIA: ARAH BARU, MASA DEPAN EROPA! - Berita Dunia
← Kembali

PILKADA SLOVENIA: ARAH BARU, MASA DEPAN EROPA!

Foto Berita

Pemilu parlemen di Slovenia baru saja usai, menyajikan pertarungan sengit yang menguji masa depan negara anggota Uni Eropa itu. Dua nama besar saling berhadapan: Perdana Menteri petahana Robert Golob dari kubu liberal, dan penantang beratnya, Janez Jansa, politikus populis sayap kanan yang dikenal sebagai pengagum Donald Trump. Suara pemilih menentukan arah baru bagi Slovenia, baik di dalam negeri maupun panggung internasional.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan persaingan yang sangat ketat. Hampir bisa dipastikan, tidak ada partai yang akan meraih mayoritas parlemen secara mutlak. Artinya, pembentukan koalisi dengan partai-partai kecil akan menjadi kunci untuk menentukan siapa yang berhak memimpin Slovenia selanjutnya.

Kemenangan Jansa, yang sebelumnya pernah menjabat PM, berpotensi membawa Slovenia ke "belokan" illiberal, mirip dengan apa yang terjadi di Hungaria di bawah Viktor Orban. Di masa pemerintahannya terdahulu, Jansa kerap menghadapi protes massa dan kritik dari Uni Eropa terkait isu supremasi hukum. Ia berjanji akan memotong pajak bisnis, tapi juga berencana mengurangi dana untuk masyarakat sipil, kesejahteraan, dan media.

Sebaliknya, di bawah kepemimpinan Golob yang baru menjabat sejak 2022, Slovenia melangkah lebih jauh dalam isu sosial, seperti melegalkan pernikahan sesama jenis. Dalam kebijakan luar negeri, Golob juga punya sikap tegas, menjadi salah satu negara Eropa yang mengakui negara Palestina merdeka dan menyebut konflik di Gaza sebagai genosida, bahkan memberlakukan embargo senjata terhadap Israel. Jika Jansa kembali, kebijakan luar negeri yang progresif ini kemungkinan besar akan diubah.

Para analis menyebutkan, Jansa memiliki basis pemilih yang sangat loyal. Jadi, semakin rendah tingkat partisipasi pemilih, peluangnya untuk menang akan semakin besar. Hasil pemilu ini bukan cuma menentukan reformasi sosial dan kesehatan di Slovenia, tapi juga bisa berdampak pada dinamika internal Uni Eropa, terutama dalam menghadapi gelombang populisme di benua biru.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook