Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas. Garda Revolusi Iran (IRGC) secara terang-terangan menyatakan akan mengganggu sistem operasi 'shuttle' atau angkutan kapal pengumpan yang didukung Amerika Serikat dan negara-negara Arab. Sistem ini sebelumnya dibuka untuk mengakali blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, memungkinkan minyak mentah tetap mengalir keluar dari kawasan Teluk.
Kepala Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menegaskan bahwa kapal-kapal yang terlibat dalam operasi ini kini menjadi target sah militer Iran. Ia mengklaim pihaknya telah menyerang lima hingga enam kapal setiap malam selama beberapa pekan terakhir. Rezaei menyebut operasi tersebut sebagai penyelundupan, dan menegaskan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Iran.
Ancaman ini tidak hanya menyasar kapal tanker. Iran juga memperingatkan akan menargetkan infrastruktur digital, seperti kabel bawah laut, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) di Uni Emirat Arab (UEA) serta sekitar Selat Hormuz jika infrastruktur energi mereka diserang lagi. Meski demikian, Iran tampaknya menahan diri untuk tidak menyerang Arab Saudi secara langsung, meski menuduh Riyadh membantu AS.
Analisis Dampak: Bagi masyarakat global, eskalasi ini berisiko memicu lonjakan harga minyak dunia yang signifikan. Jika jalur pelayaran ini benar-benar lumpuh total, biaya logistik dan energi akan melonjak, yang berujung pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Selain itu, ancaman terhadap infrastruktur AI dan data center menunjukkan bahwa konflik geopolitik kini merambah ke ranah teknologi digital, yang bisa mengganggu layanan internet dan komunikasi di kawasan tersebut.