Polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali memukul kawasan regional. Maskapai penerbangan Malaysia, Firefly, resmi memperpanjang pembatalan rute Kuala Lumpur-Singapura hingga Rabu mendatang. Langkah ini diambil sebagai tindakan preventif karena jarak pandang yang sangat rendah akibat kabut asap yang menyelimuti kedua wilayah tersebut.
Data dari IQAir, lembaga pemantau kualitas udara asal Swiss, menempatkan Singapura dan Kuala Lumpur sebagai dua kota paling tercemar di dunia pada Selasa lalu. Indeks Kualitas Udara (AQI) di Singapura menembus angka 199, sementara Kuala Lumpur berada di angka 183. Angka ini masuk dalam kategori tidak sehat dan berisiko tinggi bagi kesehatan pernapasan warga.
Krisis ini memaksa pemerintah Singapura mengaktifkan kembali skema subsidi biaya pengobatan untuk penyakit terkait kabut asap, kebijakan yang terakhir kali diterapkan pada 2015 silam. Di Malaysia, aktivitas belajar mengajar di beberapa negara bagian terpaksa diliburkan, meski sebagian sekolah mulai dibuka kembali seiring perbaikan kualitas udara yang fluktuatif.
Penyebab utamanya adalah titik api di Sumatra dan Kalimantan yang disebut sebagai yang terparah dalam 11 tahun terakhir, diperparah oleh fenomena El Nino yang sangat kuat. Indonesia telah mengerahkan sekitar 60.000 personel untuk memadamkan api. Namun, upaya ini terkendala medan yang sulit, pasokan air terbatas, dan 34 pesawat yang tidak bisa terbang karena tebalnya asap.
Isu ini akan menjadi agenda utama dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN bulan depan. Malaysia mendesak agar kabut asap transfronterasi diklasifikasikan sebagai bencana alam regional agar penanganannya bisa lebih terkoordinasi dan efektif.