JAKARTA - Tiga tahun sudah berlalu sejak serangan mematikan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023. Israel menggelar rangkaian acara peringatan untuk mengenang sekitar 1.200 korban jiwa dan 251 orang yang disandera dalam serangan tersebut. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa bangsa Israel bersatu dalam duka, meski ia juga menghadapi desakan dari para pengunjuk rasa yang menuntut penyelidikan negara independen atas kegagalan keamanan saat itu.
Peringatan ini berlangsung di tengah situasi Gaza yang masih dilanda kekerasan meskipun gencatan senjata telah disepakati hampir setahun lalu. Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas melaporkan lebih dari 74.200 orang tewas di Gaza akibat operasi militer Israel, angka yang dianggap kredibel oleh PBB. Kondisi kehidupan bagi 2,1 juta penduduk Gaza pun masih sangat memprihatinkan.
Salah satu momen paling mengharukan terjadi di lokasi festival musik Nova, tempat 378 orang tewas dan 44 lainnya disandera. Keluarga korban dan para penyintas berkumpul untuk memberikan penghormatan. Ahuva Yavin Mayze, yang kehilangan putrinya Adi di usia 21 tahun, menggambarkan peristiwa itu sebagai sesuatu yang "distopik dan tak terbayangkan." Di Kibbutz Kfar Aza, tempat 64 warga tewas dan 19 disandera, pemimpin komunitas Zion Regev mengungkapkan bahwa sebagian besar warga yang selamat belum kembali ke rumah mereka karena trauma yang mendalam.
Analisis Dampak: Peringatan tiga tahun ini tidak hanya menjadi momen refleksi bagi Israel, tetapi juga menyoroti kompleksitas konflik yang belum menemukan titik terang. Tuntutan penyelidikan independen terhadap kegagalan intelijen menunjukkan bahwa luka politik masih terbuka lebar. Sementara itu, kondisi kemanusiaan di Gaza yang terus memburuk menegaskan bahwa dampak perang ini tidak simetris dan berkelanjutan. Masyarakat internasional semakin mendesak solusi diplomatik yang nyata, bukan sekadar gencatan senjata sementara, karena tanpa penyelesaian akar masalah, siklus kekerasan ini berpotensi terus berulang.