Pasar saham di Asia bergejolak hebat, anjlok drastis menyusul serangkaian serangan terhadap fasilitas energi vital di kawasan Teluk. Ketegangan yang memanas antara Israel dan Iran ini tak hanya memicu kenaikan harga minyak global, namun juga mengancam pasokan energi dunia dan memperburuk bayang-bayang inflasi global.
Pada Kamis pagi, bursa saham Jepang Nikkei 225 dan KOSPI Korea Selatan sama-sama merosot hampir 3 persen. Gejolak ini terjadi setelah adanya serangan terhadap fasilitas gas alam di Qatar, Iran, dan Uni Emirat Arab (UEA) yang menambah kekhawatiran pasar, terutama di tengah efektifnya penutupan Selat Hormuz dan terhambatnya ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Bersamaan dengan itu, harga minyak mentah Brent, patokan global, melonjak lebih dari 4 persen dan menyentuh angka US$112 per barel, tertinggi dalam seminggu terakhir.
Kondisi ini sangat memukul negara-negara importir besar seperti Jepang dan Korea Selatan, yang masing-masing merupakan ekonomi terbesar ketiga dan kelima di Asia. Keduanya sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil, memenuhi 80 hingga 90 persen kebutuhan energi mereka. Pada tahun 2024, mereka juga tercatat sebagai importir LNG terbesar kedua dan ketiga di dunia, dengan volume masing-masing 68 juta ton dan 47 juta ton.
Serangan ini tidak hanya terjadi di Asia. Pasar saham AS juga mengalami penurunan substansial semalam di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi. Indeks S&P 500 Wall Street anjlok sekitar 1,4 persen, dengan Nasdaq Composite yang didominasi teknologi turun hampir 1,5 persen.
Jason Feer, kepala intelijen bisnis global di Poten & Partners, menyebut serangan terhadap fasilitas energi ini sebagai 'eskalasi besar' dalam konflik regional. Menurutnya, kerusakan pada instalasi produksi dan pemrosesan minyak dan gas bisa memakan waktu lama untuk diperbaiki, memastikan pasokan akan terganggu di masa mendatang bahkan jika pertempuran berhenti.
Qatar mengonfirmasi fasilitas ekspor LNG utamanya di Ras Laffan Industrial City, yang merupakan pabrik terbesar di dunia, mengalami 'kerusakan signifikan' akibat serangan rudal Iran. QatarEnergy, perusahaan energi milik negara, juga melaporkan beberapa fasilitas LNG lainnya turut diserang, menyebabkan 'kebakaran besar dan kerusakan meluas'. Presiden AS Donald Trump bahkan sempat memperingatkan Iran melalui Truth Social, mengancam akan 'meledakkan seluruh' ladang gas South Pars jika Tehran kembali menyerang fasilitas energi Qatar. Sementara itu, UEA mengumumkan penangguhan operasi fasilitas gas Habshan dan ladang minyak Bab setelah berhasil mencegat serangan rudal Iran. Arab Saudi juga melaporkan telah mencegat upaya serangan pesawat tak berawak ke fasilitas gas di wilayahnya.
Analisis Dampak bagi Masyarakat:
Eskalasi konflik di Timur Tengah ini bukan sekadar berita regional, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global. Bagi masyarakat, dampak langsungnya adalah potensi lonjakan harga energi, terutama bahan bakar dan listrik, yang akan memicu inflasi lebih lanjut. Biaya produksi dan distribusi barang akan meningkat, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen. Negara-negara seperti Indonesia, yang juga mengimpor sebagian kebutuhan energinya, akan merasakan efek domino ini melalui kenaikan harga komoditas dan pelemahan daya beli. Jika serangan terus berlanjut dan mengganggu jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz, pasokan barang global akan terhambat, memperburuk krisis rantai pasok dan memperlambat pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Situasi ini menuntut kesiapan pemerintah dan masyarakat untuk menghadapi potensi gejolak ekonomi yang lebih besar.