Presiden Prancis Emmanuel Macron angkat bicara terkait gelombang kerusuhan yang melanda sejumlah kota besar di negaranya. Dalam pernyataannya saat berkunjung ke Timur Tengah, Macron menuduh sejumlah pemimpin asing mengeksploitasi situasi ini untuk kepentingan elektoral. Tanpa menyebut nama spesifik, ia menyoroti komentar mereka yang dianggap memanfaatkan kerusuhan demi kampanye pemilu di negara masing-masing.
Pernyataan ini diduga mengarah pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump, yang keduanya tengah menghadapi agenda pemilu. Macron juga menyinggung penyebaran video palsu hasil rekayasa AI yang memicu opini publik. Situasi keamanan sendiri dilaporkan memanas di kota-kota seperti Paris, Lyon, Marseille, dan Nice. Hampir 150 orang dipenjara dan lebih dari 800 dibawa ke pengadilan akibat aksi vandalisme dan bentrokan dengan aparat.
Pemerintah Prancis mengakui sempat kehilangan kendali atas situasi, yang dipicu protes pelajar terkait kondisi sekolah menengah. Macron berjanji bertindak tegas terhadap provokator dari kelompok ultra-kiri. Menanggapi tuduhan Macron, Netanyahu dan Trump kompak menyalahkan imigrasi massal sebagai akar masalah. Netanyahu bahkan mengklaim Prancis tengah mengalami 'invasi Islam ekstremis', sementara Trump menyerukan penutupan perbatasan. Isu ini diprediksi memperkeruh polarisasi politik global menjelang pemilu di berbagai negara.