Pemerintahan Perdana Menteri Andy Burnham baru saja merilis Anggaran Musim Gugur perdana mereka. Menteri Keuangan John Healey mengumumkan sederet kebijakan yang diklaim pro-rakyat pekerja, di tengah krisis biaya hidup yang makin mencekik.
Poin utamanya: sebanyak 20 juta rumah tangga akan menerima bantuan tunai sekali cair sebesar 100 poundsterling (sekitar Rp2,1 juta) untuk tagihan energi. Bantuan ini menyasar rumah dengan nilai properti di bawah 88.000 poundsterling berdasarkan harga tahun 1991. Selain itu, pemotongan PPN sementara diperpanjang hingga 1 Juli, yang berpotensi menekan harga energi tahunan sekitar 50 poundsterling.
Namun, ekonom dari lembaga pemikir Verdant, James Meadway, menilai langkah ini kurang greget. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak menyentuh akar masalah krisis biaya hidup secara serius. Data dari Office for Budget Responsibility (OBR) bahkan memprediksi pertumbuhan pendapatan riil stagnan tahun depan, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2027 dipangkas dari 1,5 persen menjadi hanya 1 persen. Ini memicu kekhawatiran bahwa standar hidup masyarakat akan menjadi yang terburuk dalam sejarah modern Inggris.
Di sisi lain, Healey berkomitmen mendanai Rencana Investasi Pertahanan senilai 15 miliar poundsterling dan menutup celah anggaran 4,7 miliar poundsterling dengan realokasi pos belanja departemen lain. Sayangnya, strategi konkret untuk memenuhi target NATO (3,5 persen GDP pada 2035) masih belum dijelaskan rinci. Masyarakat pun dihadapkan pada dilema: dapat bantuan jangka pendek, tapi bayang-bayang resesi dan pemotongan anggaran sektor lain masih mengintai.