NASIB NUKLIR IRAN DI JENEWA: ANCAMAN PERANG MENGGILA? - Berita Dunia
← Kembali

NASIB NUKLIR IRAN DI JENEWA: ANCAMAN PERANG MENGGILA?

Foto Berita

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, kini berpusat di Jenewa, Swiss, tempat putaran kedua pembicaraan nuklir krusial akan segera berlangsung. Diplomat utama Iran, Abbas Araghchi, telah tiba di sana dengan misi jelas: mencari kesepakatan yang adil dan meredakan ancaman konflik yang disebut Pemimpin Tertinggi Iran bisa meluas jadi perang regional.

Sebelum berdialog langsung dengan delegasi Amerika pada Selasa, Araghchi dijadwalkan bertemu dengan Direktur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, pada Senin malam. Pertemuan ini sangat penting untuk membahas teknis mendalam program nuklir Teheran. Terlebih, IAEA masih berupaya mendapatkan akses ke fasilitas nuklir Iran yang sempat dibom oleh AS dan Israel pada Juni lalu, sebuah misi rumit mengingat risiko radiasi dan kebutuhan protokol resmi.

Situasi makin pelik. Iran bersikukuh tak akan menyerah pada tuntutan AS untuk menghentikan total pengayaan nuklir. Mereka juga menegaskan program rudal balistiknya adalah 'garis merah' yang tak bisa dinegosiasikan. Di sisi lain, Washington justru terus menambah kekuatan militernya di kawasan, bahkan sampai mengerahkan kapal induk kedua. Presiden Donald Trump juga sempat lontarkan pernyataan provokatif, menyebut perubahan kekuasaan di Iran akan menjadi 'hal terbaik yang bisa terjadi', menambah panas suasana.

Pembicaraan ini bukan hanya soal nuklir semata. Ia juga berlangsung di tengah gejolak internal Iran, di mana pemerintah baru saja menumpas protes besar yang menewaskan ribuan orang pada Januari lalu. Teheran menuduh AS dan Israel mendanai 'teroris' di balik kerusuhan itu, sementara banyak pihak, termasuk PBB, mengecam penggunaan kekuatan mematikan terhadap demonstran damai.

Jika negosiasi di Jenewa buntu, ancaman konflik militer yang lebih besar di Timur Tengah semakin nyata. Hal ini tentu berdampak luas pada stabilitas regional, harga minyak dunia, dan berpotensi memicu krisis kemanusiaan. Diplomasi adalah jalan terakhir untuk menghindari eskalasi yang lebih parah, namun dengan sikap kedua belah pihak yang keras, jalan menuju kesepakatan masih terjal dan penuh rintangan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook