Jakarta, CNN Indonesia -- Memasuki hari ke-100, perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran justru menuai sentimen negatif di dalam negeri AS sendiri. Alih-alih mendapat dukungan, konflik ini dinilai sebagai beban politik bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik.
Jajak pendapat terbaru dari Universitas Maryland mengungkap fakta mengejutkan: hanya 16 persen pemilih AS yang percaya bahwa negaranya sedang unggul atau akan menang dalam perang ini. Lebih parahnya lagi, mayoritas respondenātermasuk 33 persen pemilih Republikāmenilai perang ini lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya bagi kepentingan AS.
āIni penilaian yang menakjubkan. Fakta bahwa kalangan Republik sendiri mulai menganggap perang ini merugikan adalah titik balik besar. Ini pertanda buruk bagi Trump ke depannya,ā ujar Shibley Telhami, profesor dari Universitas Maryland.
Perang yang dimulai pada 28 Februari itu diawali dengan serangan bom AS-Israel ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan ratusan warga sipil. Iran membalas dengan rudal dan drone ke Israel, plus menutup Selat Hormuz yang membuat harga minyak dan gas melambung tinggi.
Meski gencatan senjata sempat disepakati pada 6 April, bentrokan masih kerap terjadi. Trump terus mengklaim kedua pihak hampir mencapai kesepakatan, namun hingga kini tak ada titik terang. Situasi 'no war, no peace' ini justru membuat publik AS semakin muak.
Dampaknya langsung terasa di panggung politik. Partai Demokrat melihat celah untuk merebut kembali kendali Kongres pada pemilu paruh waktu November mendatang. Jika berhasil, seluruh agenda Trump di sisa masa jabatannya bisa terhambat. Perang yang tidak populer ini bisa menjadi bumerang bagi Gedung Putih sendiri.