Beirut, Al Jazeera – Militer Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi massal kepada penduduk di 20 desa dan kota di Lebanon selatan. Mereka diminta segera meninggalkan rumah dan bergerak ke utara Sungai Zahrani, jauh dari zona konflik.
Perintah ini keluar di tengah meningkatnya serangan udara Israel. Dalam laporan terbaru, satu warga sipil tewas akibat serangan di kotamadya Maarakeh, Distrik Tyre. Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengonfirmasi insiden tersebut, sementara Al Jazeera melaporkan serangan terus terjadi hingga utara dari apa yang disebut Israel sebagai 'Garis Kuning'.
Yang membuat situasi semakin rumit, serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Pakistan mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat pada draf perjanjian untuk mengakhiri perang 'di semua lini, termasuk Lebanon'. Artinya, aksi militer Israel di Lebanon saat ini dinilai bisa menggagalkan kesepakatan damai yang baru dirintis, karena Israel sendiri tidak terlibat dalam negosiasi AS-Iran tersebut.
Ironisnya, serangan ini juga terjadi di tengah 'gencatan senjata' yang sudah disepakati antara Israel dan Lebanon awal bulan ini. Kesepakatan itu menuntut 'penghentian total' tembakan oleh Hizbullah, namun faktanya pertempuran masih berlangsung. Puluhan rumah dan gedung pemerintah di Bint Jbeil dilaporkan rata oleh serangan fajar Israel.
Analisis Dampak: Perintah evakuasi massal ini bukan hanya soal perpindahan fisik. Ini adalah indikasi bahwa Israel bersiap untuk operasi darat skala besar atau bombardir yang lebih intensif. Jika negosiasi AS-Iran buntu karena ulah Israel, maka Lebanon akan menjadi medan perang utama yang berkepanjangan. Warga sipil menjadi korban paling rentan, dan krisis kemanusiaan di Lebanon selatan dipastikan akan memburuk drastis dalam waktu dekat.