PERANG DINGIN BARU: BRASIL DI ANTARA AS DAN CHINA - Berita Dunia
← Kembali

PERANG DINGIN BARU: BRASIL DI ANTARA AS DAN CHINA

Foto Berita

Kemenangan Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan babak baru ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China. Setelah Lula menang, mantan Presiden Jair Bolsonaro langsung mendapat visa dari pemerintahan Donald Trump dan menetap di Miami. Sebaliknya, Presiden China Xi Jinping memberikan ucapan selamat hangat dan menyebut hubungan China-Brasil sebagai model kerja sama negara-negara Global South.

China memang telah menjadi mitra dagang terbesar Brasil, dan Lula secara aktif memperkuat poros BRICS sebagai penyeimbang dominasi Barat. Namun, analis menilai kemenangan Lula bukan berarti Brasil otomatis menjadi 'boneka' Beijing. Lula adalah nasionalis yang gigih membela kedaulatan negaranya.

Di sisi lain, Trump tidak tinggal diam. Ia telah menyiapkan instrumen tekanan yang jauh lebih agresif dibandingkan sekadar jalur diplomatik. Mulai dari tarif impor hingga 50 persen untuk produk Brasil, sanksi terhadap hakim Mahkamah Agung Brasil, hingga yang paling kontroversial: penetapan dua organisasi kriminal terbesar Brasil sebagai organisasi teroris asing (FTO). Langkah ini membuka celah hukum bagi potensi operasi militer AS di wilayah Brasil.

Washington juga tengah membangun arsitektur keamanan bernama 'Shield of the Americas' (Perisai Amerika). Pesan yang ingin disampaikan jelas: AS mengklaim kembali Benua Amerika sebagai zona eksklusif, di mana negara mana pun tidak boleh masuk ke orbit Beijing tanpa konsekuensi. Pemberian suaka politik kepada Bolsonaro dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga rival Lula tersebut tetap relevan sebagai senjata politik.

Bagi masyarakat Brasil, situasi ini menciptakan ketidakpastian ekonomi dan stabilitas politik. Di satu sisi, mereka butuh investasi China untuk infrastruktur dan perdagangan. Di sisi lain, ancaman sanksi dan tarif dari AS dapat mengguncang ekonomi domestik. Tantangan terbesar bagi Lula adalah apakah ia mampu bertahan dari tekanan AS dengan dukungan ekonomi dari China yang sifatnya jangka panjang, atau justru tersandera dalam permainan dua raksasa ekonomi dunia tersebut.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook