KISAH NERAKA WARGA OLESHKYYANG AKHIRNYA KABUR - Berita Dunia
← Kembali

KISAH NERAKA WARGA OLESHKYYANG AKHIRNYA KABUR

Foto Berita

Setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan di kota garis depan Oleshky, ratusan warga akhirnya berhasil menembus zona konflik dan menginjakkan kaki di wilayah Ukraina yang aman. Viacheslav dan istrinya, Olha, menjadi saksi bagaimana kehidupan di kota yang dikuasai Rusia itu berubah menjadi mimpi buruk. Mereka menggambarkan situasi di sana sebagai 'horor' yang tak berkesudahan.

Kota Oleshky terjebak di antara Sungai Dnipro dan pasukan Rusia sejak invasi besar-besaran dimulai pada Februari 2022. Warga yang bertahan hidup harus menghadapi ancaman ranjau darat dan serangan drone setiap kali mencoba mencari makanan. Olha menceritakan bagaimana orang-orang nekat melintasi ladang ranjau hanya untuk bertahan hidup, sementara yang lain terpaksa memasak rumput taman karena persediaan makanan yang menipis.

Jalan keluar akhirnya terbuka berkat gencatan senjata kemanusiaan yang dimediasi oleh Ibu Negara AS, Melania Trump. Kesepakatan ini memberikan jeda damai pertama dalam empat tahun terakhir di wilayah Kherson. Sekitar 1.700 warga yang masih bertahan di kota itu diberi waktu empat jam untuk dievakuasi menggunakan konvoi bus dan ambulans pada Jumat lalu.

Proses evakuasi ini melibatkan perjalanan panjang melintasi wilayah pendudukan Rusia, lalu terbang ke Belarus, sebelum akhirnya tiba di fasilitas militer di Chernihiv, Ukraina. Momen haru tak terhindarkan saat para pengungsi bertemu kembali dengan keluarga mereka. Mykhailo Palii, salah satu pengungsi, menceritakan bagaimana rumahnya terkena serangan hingga lubang menganga di kamar mandi, sebuah kenyataan pahit yang selama ini ia sembunyikan dari anak-anaknya.

Dampak bagi masyarakat luas, evakuasi ini menjadi angin segar di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk. Namun, masih ada ribuan warga lain di wilayah sekitar yang nasibnya belum jelas. Keberhasilan gencatan senjata ini diharapkan menjadi preseden baik untuk upaya perdamaian selanjutnya, meskipun risiko eskalasi kembali masih sangat tinggi mengingat situasi geopolitik yang belum stabil.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook