TRUMP TAHAN SERANGAN IRAN SAMPAI PEMILU AS, SELAT HORMUZ MEMANAS - Berita Dunia
← Kembali

TRUMP TAHAN SERANGAN IRAN SAMPAI PEMILU AS, SELAT HORMUZ MEMANAS

Foto Berita

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan tidak akan melancarkan serangan ke Iran sebelum pemilihan sela (midterms) pada 3 November mendatang. Namun, ia sempat menyatakan di konvensi Partai Republik bahwa konflik akan berakhir 'tepat setelah pemilu', sementara militer AS terus menambah kekuatan di kawasan Teluk.

Di sisi lain, serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz meningkat tajam ke level tertinggi sejak perang dimulai. Seorang pejabat Iran kepada Reuters menyebut Teheran mulai memakai taktik ofensif baru terhadap kapal yang dianggap melanggar aturan mereka.

Selat Hormuz masih menjadi inti konflik AS-Iran. Sebelum perang, jalur ini mengangkut setidaknya 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Harga minyak mentah sempat melonjak dari sekitar 72 dolar AS per barel menjadi hampir 120 dolar AS, dan kini bertahan di kisaran 104 dolar AS per barel.

Gencatan senjata Juni lalu gagal karena perebutan kendali selat. AS tetap memblokade pelabuhan selatan Iran, sementara Iran terus menyerang kapal yang mencoba melintas. Perundingan tidak langsung lewat Pakistan dan Qatar masih berjalan, tetapi Trump menolak tawaran terbaru Iran untuk membuka kembali selat bulan lalu.

AS memiliki setidaknya tiga kelompok tempur kapal induk di Teluk atau sedang menuju ke sana, termasuk USS Theodore Roosevelt yang membawa sekitar 7.000 pelaut dan 2.000 Marinir. Sekitar 50.000 tentara AS juga tersebar di berbagai pangkalan di Timur Tengah. Meski secara militer jauh lebih kuat, AS dinilai belum mencapai hasil yang diinginkan. Opsi paling realistis saat ini adalah mempertahankan status quo: blokade laut dan pengawalan kapal dagang di Selat Hormuz.

Dampak bagi masyarakat: Ketegangan di Selat Hormuz langsung memukul harga energi global. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan subsidi energi, memicu inflasi, dan melemahkan rupiah. Masyarakat perlu bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga bahan bakar dan barang kebutuhan pokok jika konflik berlanjut. Selain itu, ketidakpastian jalur pelayaran internasional bisa mengganggu rantai pasok global, termasuk impor bahan baku industri dalam negeri.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook