PEMIMPIN BAYANGAN IRAN MULAI BERAKSI - Berita Dunia
← Kembali

PEMIMPIN BAYANGAN IRAN MULAI BERAKSI

Foto Berita

Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi baru Iran, membangun sistem pengambilan keputusan baru tanpa pernah tampil di depan publik. Sejak menggantikan ayahnya pada Maret lalu, ia memerintah lewat pernyataan tertulis dan dekrit, sementara laporan pertemuannya dengan pejabat senior menjadi satu-satunya petunjuk bagaimana ia menjalankan kekuasaan.

Pertemuan pada Mei dan Agustus lalu tampak sekadar untuk meyakinkan rakyat Iran bahwa pemimpin baru mereka masih hidup dan aktif. Namun rangkaian empat pertemuan dalam 11 hari pada Oktober—melibatkan ketua parlemen, lembaga yudikatif, institusi keamanan nasional, dan komandan militer senior—menandakan sesuatu yang lebih besar: sebuah sistem pengambilan keputusan baru sedang terbentuk.

Langkah ini muncul saat Teheran menimbang pilihan antara negosiasi atau konfrontasi baru dengan Amerika Serikat dan Israel. Pola konsultasi ini pun mengingatkan pada proses yang mendahului kesepakatan nuklir 2015. Pertanyaannya, apakah kepemimpinan baru Iran sedang bersiap untuk keputusan besar serupa, dan apakah sistem ini mampu mengambilnya?

Selama hampir 37 tahun, kekuasaan Ali Khamenei bertumpu pada kehadiran personalnya: pidato yang menetapkan garis merah, pertemuan publik dengan komandan dan elite politik. Putranya naik ke tampuk kekuasaan dalam situasi berbeda. Terluka dalam serangan 28 Februari yang menewaskan ayahnya, ia disarankan tidak tampil atau merilis rekaman suara karena khawatir dilacak. Kekuasaannya terbentuk melalui dekrit pembangunan kembali institusi, keputusan yang disalurkan lewat lingkaran kecil pejabat tepercaya, dan kesaksian orang lain sebagai pengganti kehadiran pribadi.

Pertemuan Oktober menyusul pengangkatan sejumlah komandan militer dan keamanan yang tewas dalam perang. Pada Agustus, Khamenei menunjuk penasihat militernya, Mohsen Rezaei, sebagai perwakilannya di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi; Rezaei kemudian menjadi sekretarisnya. Enam pengangkatan militer menyusul, termasuk Ali Abdollahi sebagai kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata, Ahmad Vahidi sebagai komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan Ali Azmaei sebagai komandan Angkatan Laut IRGC.

Analisis dampak: Bagi masyarakat Iran, gaya kepemimpinan tertutup ini memunculkan kekhawatiran soal transparansi dan akuntabilitas. Warga hanya bisa menebak arah kebijakan dari pernyataan tertulis, sementara isu nuklir dan ketegangan dengan AS-Israel menjadi taruhan besar. Jika sistem konsultasi ini berhasil menghasilkan keputusan strategis—seperti negosiasi ulang kesepakatan nuklir—stabilitas kawasan bisa lebih terjaga. Namun jika gagal, risiko eskalasi konflik militer meningkat, yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh rakyat Iran melalui sanksi dan tekanan ekonomi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook