KABAR GEMBIRA! SELAT HORMUZ AKAN BUKA LAGI - Berita Dunia
← Kembali

KABAR GEMBIRA! SELAT HORMUZ AKAN BUKA LAGI

Foto Berita

SINGAPURA, KOMPAS.TV - Kabar gembira datang dari Timur Tengah. Harga minyak dunia langsung anjlok di perdagangan Asia, Senin (15/6/2026), setelah Pakistan mengumumkan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Salah satu poin utamanya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia.

Harga minyak mentah Brent langsung ambles 4,8% ke posisi 83,18 dolar AS per barel. Sementara minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), juga terpangkas 5,6% ke level 80,13 dolar AS. Ini adalah sinyal bahwa pasar lega karena pasokan minyak diperkirakan bakal kembali normal.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan akan ada acara penandatanganan resmi pada Jumat, 19 Juni 2026 di Swiss. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, juga sudah mengonfirmasi kesepakatan itu lewat sambungan telepon di TV nasional. Mantan Presiden AS, Donald Trump, bahkan langsung bereaksi di media sosial dengan cuitan singkat: "Let the oil flow!" (Biarkan minyak mengalir!).

Namun, analis energi dari Vanda Insights, Vandana Hari, mengingatkan pasar untuk tidak terlalu euforia. "Ketiadaan detail tentang apa yang sebenarnya disepakati justru bisa memicu ketidakpastian dan gejolak baru di pasar," ujarnya. Ia memprediksi sepekan ke depan harga minyak bakal naik-turun tajam.

Dampak Lebih Luas: Kabar ini bukan cuma soal minyak. Bursa saham Asia langsung menghijau. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 5,4%, dan Kospi Korea Selatan naik lebih dari 5,5%. Ini karena negara-negara Asia sangat bergantung pada minyak dan gas dari Timur Tengah. Jika Selat Hormuz benar-benar aman, biaya energi bisa turun, inflasi terkendali, dan ekonomi global bisa bernapas lega.

Tapi, jangan keburu senang dulu. Pakar energi Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates mengingatkan bahwa proses normalisasi tak akan instan. "Ladang ranjau di selat harus dibersihkan dulu, bisa makan waktu beberapa minggu hingga enam bulan. Belum lagi antrean panjang kapal tanker yang menunggu," jelasnya. Proses memulai kembali produksi minyak dan memuat kapal juga butuh waktu berminggu-minggu.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook