Wabah Ebola yang bermula dari Republik Demokratik Kongo (DRC) kini mulai merambah ke sejumlah negara di Afrika. Kenya mencatat kematian keduanya akibat virus mematikan ini, Jumat lalu. Korban terbaru adalah seorang perempuan berusia 65 tahun yang merupakan kerabat dekat pasien pertama asal Kenya yang meninggal awal Oktober.
Kementerian Kesehatan Kenya melaporkan saat ini ada tujuh pasien Ebola yang dirawat di dua fasilitas isolasi. Seluruh kasus masih tergolong dalam satu klaster dan belum ada bukti penularan di komunitas. Otoritas setempat telah melacak 135 kontak erat, semuanya dikarantina, dengan sembilan kasus terkonfirmasi termasuk dua korban meninggal.
Situasi ini menjadi perhatian serius karena wabah Ebola ke-17 di DRC telah mencatat lebih dari 9.000 kasus dan 4.600 kematian. Penyakit ini telah membunuh lebih dari 15.000 orang di Afrika dalam 50 tahun terakhir. Yang mengkhawatirkan, wabah kali ini telah dilaporkan di empat negara di Afrika timur, tengah, dan barat—penyebaran geografis terluas dalam sejarah wabah Ebola di benua tersebut.
Nigeria menjadi negara keempat yang melaporkan kasus Ebola, dengan analisis menunjukkan kasus tersebut sangat terkait dengan virus yang terdeteksi pada pasien indeks di Kenya. Sementara itu, Uganda menerapkan kebijakan ketat dengan melarang pelancong yang memiliki riwayat perjalanan ke DRC transit di negaranya. Uganda sendiri sempat mencatat 20 infeksi dan dua kematian sebelum dinyatakan bebas Ebola pada Agustus lalu.
Bagi masyarakat Indonesia, meski wabah ini masih jauh secara geografis, penting untuk tetap waspada terhadap potensi penyebaran lintas negara. Virus Ebola menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, sehingga protokol kesehatan ketat dan pemantauan di pintu masuk negara menjadi kunci pencegahan.