Otoritas Palestina bergerak cepat mendaftarkan 14 situs budaya dan alam baru ke daftar sementara Warisan Dunia UNESCO. Langkah ini bertujuan melindungi kekayaan sejarah mereka dari serangan Israel dan upaya pengklaiman. Total situs yang diajukan Palestina kini mencapai 24, termasuk peninggalan kuno hingga arsitektur modern.
Pendaftaran yang diumumkan Kementerian Pariwisata dan Purbakala Palestina pada 1 Januari lalu ini punya misi ganda. Pertama, untuk mengamankan situs-situs bersejarah dari penghancuran dan pengklaiman Israel. Kedua, mendapatkan pengakuan internasional atas nilai universal situs-situs tersebut, sekaligus menjadi bukti hukum atas kerusakan yang terjadi, terutama di Jalur Gaza yang hancur lebur akibat perang genosida Israel.
Marwa Adwan, Direktur Jenderal sementara Warisan Dunia di Kementerian Pariwisata Palestina, menegaskan, "Palestina bukan sekadar arena konflik politik, tapi peradaban yang berakar kuat dalam sejarah manusia." Ia menyoroti bagaimana keragaman budaya ini menjadi jawaban terkuat atas upaya Israel memonopoli narasi sejarah.
Lebih dari 200 situs bersejarah di Gaza dilaporkan hancur akibat bombardir Israel, yang oleh para ahli disebut sebagai "genosida budaya". Beberapa situs penting yang didaftarkan termasuk Masjid Agung Omari yang berusia hampir 1.400 tahun dan Gereja Saint Porphyrius dari tahun 425 Masehi, keduanya menjadi sasaran serangan Israel.
Adwan menyebut langkah ini sebagai strategi penting untuk "hari setelah" perang usai. "Mendaftarkan situs seperti Masjid Agung Omari adalah pengakuan awal secara internasional atas nilai globalnya dan kebutuhan mendesak akan perlindungan," jelasnya. Palestina berharap UNESCO tidak hanya memberikan bantuan dana, tetapi juga mendokumentasikan kerusakan sebagai sumber hukum internasional untuk menjaga hak-hak budaya mereka.
Tentu saja, inisiatif ini memicu reaksi keras dari pemerintah Israel. Terutama menyangkut situs-situs di Area C Tepi Barat, seperti Herodium (Jabal al-Fureidis), yang sepenuhnya berada di bawah kendali militer Israel. Menurut Channel 14 Israel, Menteri Warisan Israel Amichai Eliyahu bahkan mengirim surat darurat kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melabeli langkah Palestina ini sebagai "terorisme arkeologi".