Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, namun secercah harapan muncul setelah Oman mengonfirmasi putaran negosiasi baru. Pembicaraan sensitif ini akan berpusat pada program nuklir Iran yang terus menjadi duri dalam daging hubungan kedua negara adidaya. Apa yang akan terjadi di meja perundingan kali ini?
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, baru-baru ini mengumumkan melalui media sosial bahwa negosiasi AS-Iran dijadwalkan kembali pada hari Kamis di Jenewa. Konfirmasi ini datang di tengah peningkatan aset militer AS di kawasan tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi perang skala penuh melawan Iran. Situasi ini memang membuat banyak pihak menahan napas, menanti hasil perundingan krusial ini.
Sebelum pengumuman Oman, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sempat menyatakan bahwa Teheran siap menerapkan "mekanisme pemantauan penuh" demi menjamin sifat damai program nuklirnya dan meredakan ketegangan. Ketika ditanya mengapa Iran bersikeras melakukan pengayaan uranium di dalam negeri ketimbang membelinya, Araghchi dengan tegas mengatakan hal itu adalah masalah "martabat dan kebanggaan" bagi rakyat Iran.
"Teknologi ini kami kembangkan sendiri, oleh ilmuwan kami, dan sangat berharga karena kami menciptakannya setelah membayar mahal," ujarnya. Biaya mahal yang dimaksudnya meliputi dua dekade sanksi AS, pembunuhan ilmuwan Iran yang menjadi target, serta serangan AS-Israel ke fasilitas nuklir pada bulan Juli lalu.
Iran, menurut Araghchi, tidak akan menyerahkan program nuklirnya karena tidak ada alasan hukum untuk melakukannya, apalagi semua proses berjalan damai dan diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB. Sebagai anggota aktif Traktat Non-Proliferasi (NPT), Iran memiliki hak penuh untuk menikmati energi nuklir damai, termasuk pengayaan.
"Pengayaan adalah bagian sensitif dari negosiasi kami. Tim Amerika tahu posisi kami, dan kami tahu posisi mereka. Kami sudah bertukar pandangan dan saya pikir solusi bisa dicapai," tambahnya. Pengayaan sendiri adalah proses memisahkan varian uranium yang bisa menghasilkan fisi nuklir. Jika diperkaya pada tingkat rendah, uranium bisa untuk pembangkit listrik, namun jika mencapai 90 persen, bisa digunakan untuk senjata nuklir.
Di sisi lain, pejabat AS, termasuk mantan Presiden Donald Trump, sebelumnya pernah mengisyaratkan Washington menginginkan "nol pengayaan" dari Teheran. Awal bulan ini, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menyatakan kesepakatan apa pun dengan Iran harus mencakup perjanjian rudal balistik dan dukungan untuk sekutunya di kawasan.
Namun, Araghchi menegaskan pada hari Minggu bahwa Iran "hanya membahas nuklir" saat ini. "Tidak ada subjek lain," katanya kepada CBS News, seraya menambahkan optimisme bahwa kesepakatan bisa tercapai. Babak kedua pembicaraan nuklir sebelumnya telah rampung di Jenewa pada 17 Februari lalu.
Analisis Dampak: Stabilitas Global dan Harga Minyak
Perundingan ini sangat vital, bukan hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga bagi stabilitas geopolitik global dan pasar energi. Kesepakatan yang berhasil akan meredakan ketegangan di Timur Tengah, yang kerap berdampak langsung pada harga minyak dunia dan rute perdagangan vital. Sebaliknya, kegagalan negosiasi berisiko memperparah krisis, memicu spekulasi konflik yang lebih luas, dan ketidakpastian ekonomi global. Banyak pengamat menilai, isu nuklir ini hanyalah puncak gunung es dari perebutan pengaruh AS dan Iran di kawasan yang kaya sumber daya tersebut.