MINNEAPOLIS BERGOLAK, RATUSAN BISNIS TUTUP PROTES ICE - Berita Dunia
← Kembali

MINNEAPOLIS BERGOLAK, RATUSAN BISNIS TUTUP PROTES ICE

Foto Berita

Minneapolis mendadak sunyi pada Jumat lalu. Ratusan pintu toko dan kantor bisnis kecil, lembaga keagamaan, hingga serikat pekerja di kota itu kompak ditutup. Bukan karena libur, melainkan sebagai bentuk perlawanan dan protes keras terhadap operasi agresif agen federal imigrasi (ICE) yang dinilai mengancam. Aksi walkout massal ini, yang dinamakan 'The Day of Truth and Freedom', tak hanya menuntut ICE angkat kaki dari Minneapolis, tapi juga menyerukan warga untuk sementara menangguhkan belanja konsumen sebagai bentuk tekanan ekonomi.

Aksi yang melibatkan lebih dari 700 pelaku usaha kecil, organisasi keagamaan, serikat pekerja, dan para pendidik ini digalang oleh koalisi kelompok komunitas. Mereka meminta penghentian segera tindakan ICE di Minnesota, seraya menegaskan, "Sudah saatnya menangguhkan kegiatan bisnis normal demi menuntut dihentikannya tindakan ICE di MN."

Gelombang protes ini tak hanya terjadi di Minneapolis. Kota-kota besar lain di AS seperti New York City, Los Angeles, Salt Lake City, hingga Seattle turut menunjukkan solidaritas dengan aksi serupa. Di Minneapolis sendiri, para demonstran juga menggelar pawai yang dimulai pukul 2 siang waktu setempat dan berakhir di Target Center, sebuah arena di pusat kota.

Mengapa Target Jadi Sasaran?

Raksasa ritel Target menjadi sorotan utama para pengunjuk rasa. Ini bukan tanpa alasan. Perusahaan besar itu memiliki ikatan kuat dengan Minneapolis, di mana kantor pusatnya berada, dan merupakan pemberi kerja terbesar keempat di negara bagian tersebut. Para aktivis mendesak Target untuk menerapkan perlindungan di bawah Amandemen Keempat Konstitusi AS. Ini berarti agen federal tidak punya wewenang hukum untuk memasuki properti atau tempat usaha tanpa surat perintah dari hakim.

Sebuah dokumen yang dibagikan kepada para penyelenggara menyoroti dua insiden serius. Pertama, pada 8 Januari, saat agen Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) secara agresif menahan dua warga AS saat mereka bekerja di sebuah toko di Richfield, pinggiran Minneapolis. Tiga hari kemudian, di St. Paul yang berdekatan, Kepala CBP Greg Bovino bersama agen lainnya masuk ke sebuah toko tanpa surat perintah.

"Di mana Target memimpin, yang lain akan mengikuti. Negara bagian kami sedang dalam 'pendudukan' oleh agen federal, dan mereka menyerang warga Minnesota secara harfiah di dalam toko-toko Target. Kami butuh Target berdiri bersama warga Minnesota melawan serangan ini," bunyi pernyataan dalam dokumen tersebut.

Respon Target dan Konteks Lebih Luas

Hingga kini, Target memilih bungkam terkait protes dan desakan dari para pekerjanya untuk mengambil sikap. Berdasarkan laporan Bloomberg News, perusahaan hanya mengirimkan memo internal kepada stafnya, memperingatkan potensi gangguan.

Tekanan dari aktivis anti-ICE ini menambah panjang daftar tantangan yang dihadapi Target dari kelompok progresif dalam setahun terakhir. Sebelumnya, Target juga sempat menghadapi seruan boikot setelah menarik kembali inisiatif keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) mereka, yang kemudian disebut perusahaan sebagai salah satu penyebab penurunan penjualan pada awal 2025. Meski demikian, ketegangan yang membayangi ini belum menggoyahkan Wall Street. Harga saham perusahaan justru naik 1,3 persen dalam perdagangan tengah hari. Pihak Target tidak menanggapi permintaan komentar dari Al Jazeera.

Aksi protes ini mencerminkan kekhawatiran publik yang meluas terhadap praktik penegakan hukum imigrasi di AS, terutama di kota-kota yang mengklaim diri sebagai "sanctuary city" atau memiliki kebijakan yang lebih longgar terhadap imigran. Desakan kepada perusahaan swasta seperti Target untuk menjadi benteng pertahanan warga menunjukkan bagaimana isu imigrasi kini merambah hingga ke sektor korporasi dan kehidupan sehari-hari masyarakat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook