Gelombang duka dan protes melanda komunitas Muslim Syiah di Nigeria. Mereka turun ke jalan, meyakini Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah meninggal dunia akibat serangan yang mereka tuding didalangi oleh Amerika Serikat dan Israel di Teheran. Dalam demonstrasi yang penuh kemarahan, para pengunjuk rasa di berbagai kota di Nigeria mengarak potret Khamenei, mengibarkan bendera Iran, dan secara simbolis menyeret bendera Amerika serta Israel di jalanan sebagai bentuk penolakan.
Aksi solidaritas ini, yang mencerminkan sentimen anti-Barat yang kuat di sebagian komunitas Syiah global, justru memunculkan tanda tanya besar. Pasalnya, berdasarkan laporan media internasional terkemuka dan informasi yang tersedia luas, Ayatollah Ali Khamenei yang saat ini menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran masih hidup dan aktif menjalankan tugasnya. Hingga kini, belum ada laporan valid dari sumber kredibel manapun mengenai kematian beliau atau insiden serangan AS-Israel di Teheran seperti yang diklaim oleh para pengunjuk rasa di Nigeria.
Fenomena ini menyoroti betapa cepatnya disinformasi atau narasi tandingan dapat menyebar dan memicu reaksi signifikan di berbagai belahan dunia, khususnya di tengah ketegangan geopolitik yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Protes di Nigeria ini bukan hanya menunjukkan kuatnya ikatan ideologis dan solidaritas lintas negara di antara kelompok-kelompok Syiah, tetapi juga menjadi cerminan nyata bagaimana konflik di Timur Tengah dapat menciptakan riak hingga ke benua Afrika. Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya verifikasi informasi secara cermat dalam era digital yang serba cepat ini.