Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas. Media Iran melaporkan serangkaian ledakan terjadi di Pulau Qeshm dan kota pelabuhan Bandar Lengeh pada Senin malam waktu setempat. Insiden ini langsung memicu spekulasi internasional karena lokasinya yang sangat strategis, tepat di dekat Selat Hormuz.
Otoritas Iran melalui kantor berita IRNA menyebut ledakan terjadi secara beruntun. Saksi mata mengklaim melihat dua pesawat melintas di langit pulau tersebut. Sementara itu, kantor berita Fars melaporkan suara ledakan juga terdengar di Bandar Lengeh, diduga berasal dari arah laut.
Dari sisi Amerika Serikat, laporan media ternama seperti The Wall Street Journal dan Associated Press mengutip pejabat AS membenarkan adanya operasi militer. Mereka menyebut aksi tersebut sebagai "serangan defensif" yang menyasar kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Seorang pejabat AS menyatakan militer menargetkan sistem pertahanan udara Iran yang diduga membahayakan aset AS.
Informasi yang dihimpun dari media lain menyebutkan, aksi ini merupakan respons cepat setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan menembaki pesawat AS di wilayah tersebut. Meski demikian, pihak berwenang Iran maupun AS belum memberikan pernyataan resmi terkait detail insiden ini.
Menariknya, eskalasi militer ini terjadi tepat menjelang pemilihan umum sela (midterm) di AS. Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social justru memberikan sinyal optimisme, menyebut harga minyak dunia sedang turun drastis karena pasar yakin tidak akan ada perang besar. Iran sendiri melalui juru bicaranya menyatakan bahwa bola kini berada di tangan AS untuk meredakan ketegangan.