RAUL CASTRO DI BALIK DIALOG KRITIS KUBA-AS, ADA APA? - Berita Dunia
← Kembali

RAUL CASTRO DI BALIK DIALOG KRITIS KUBA-AS, ADA APA?

Foto Berita

Kabar mengejutkan datang dari Kuba. Di tengah memanasnya hubungan dengan Amerika Serikat, ternyata ada perundingan yang tengah berlangsung. Bukan sembarang perundingan, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengungkap mantan Presiden Raul Castro ikut turun tangan membimbing dialog di tahap awal ini.

Perundingan ini terjadi di tengah ketegangan memuncak, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya untuk 'mengambil alih Kuba'. AS lewat Trump juga menerapkan blokade minyak yang membuat Kuba krisis energi parah, memicu pemadaman listrik di seluruh negeri selama berbulan-bulan.

Situasi ini tidak main-main. PBB dan WHO sudah mewanti-wanti potensi krisis kemanusiaan yang bisa terjadi jika masalah energi tak kunjung teratasi, bahkan layanan kesehatan pun terancam lumpuh. Jutaan warga Kuba hidup tanpa listrik, mengancam lumpuhnya kehidupan ekonomi dan sosial di sana.

Diaz-Canel sendiri memprediksi, jalan menuju kesepakatan akan sangat panjang dan berliku. Menurutnya, pertama, harus ada jalur dialog yang terbentuk. Kedua, harus ada agenda bersama yang jadi kepentingan kedua belah pihak. Baru setelah itu, komitmen bisa dibangun.

Meski sudah tidak menjabat presiden sejak 2018, sosok Raul Castro yang kini berusia 94 tahun tetap dianggap paling berpengaruh di Kuba. Pengalamannya tak diragukan, ia pernah memimpin perundingan bersejarah dengan mantan Presiden AS Barack Obama pada 2014, yang berujung pada pembukaan kembali kedutaan dan normalisasi hubungan diplomatik.

Namun, era Trump mengubah segalanya. Ancaman tarif bagi negara pemasok minyak ke Kuba membuat pasokan energi terhenti total selama tiga bulan terakhir. Akibatnya, jutaan warga Kuba hidup tanpa listrik, mengancam lumpuhnya kehidupan ekonomi dan sosial di sana.

Francisco Pichon dari PBB di Kuba bahkan menyebutkan butuh sekitar 94 juta dolar AS untuk mengatasi krisis energi dan kerusakan akibat badai tahun lalu. Sekjen PBB Antonio Guterres dan Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sama-sama menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi yang makin memburuk, di mana layanan kesehatan pun berada dalam bahaya besar.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook