Beirut, Lebanon – Upaya diplomatik Amerika Serikat untuk meredakan ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel kembali menemui jalan buntu. Kelompok Hezbollah secara resmi menolak rencana gencatan senjata yang diajukan Washington, di tengah serangan militer Israel yang masih terus berlangsung di wilayah Lebanon selatan.
Koresponden Al Jazeera, Obaida Hitto, melaporkan dari lokasi bahwa kekerasan tak kunjung mereda meski ada tekanan internasional. 'Tidak ada tanda-tanda perlombaan diplomasi ini mengubah situasi di lapangan,' ujarnya.
Penolakan ini membuat posisi Lebanon semakin terjepit. Di satu sisi, pemerintah Lebanon ingin menghindari perang terbuka. Di sisi lain, Hezbollah yang memiliki kekuatan militer signifikan menolak bernegosiasi sebelum serangan Israel dihentikan sepenuhnya.
Dampak bagi masyarakat: Warga sipil di desa-desa perbatasan kembali menjadi korban. Ribuan orang terpaksa mengungsi ke Beirut dan kota-kota besar lainnya. Sekolah-sekolah tutup, rumah sakit kewalahan, dan harga kebutuhan pokok melonjak akibat blokade jalur distribusi. Jika situasi ini berlanjut, Lebanon yang sudah terpuruk secara ekonomi bisa mengalami krisis kemanusiaan skala besar.