Gelombang demonstrasi yang mengguncang sejumlah negara Eropa belakangan ini tidak hanya soal tuntutan ekonomi atau pendidikan. Di Brussels, Paris, hingga Belfast, bendera Palestina dan syal keffiyeh kini kerap muncul di tengah kerumunan massa, berbaur dengan poster-poster soal biaya hidup dan kualitas pendidikan yang kian mahal.
Fenomena ini menarik perhatian karena simbol-simbol tersebut dibawa bukan oleh warga Palestina, melainkan oleh mahasiswa dan serikat pekerja lokal. Kenny Pierre Agboton dari platform Free University of Brussels for Palestine menyebut bendera tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan anti-kolonialisme dan anti-penindasan. Baginya, isu Palestina menjadi persimpangan dari berbagai perjuangan, mulai dari perubahan iklim hingga hak hidup layak.
Di Prancis, gelombang protes pendidikan yang dipicu oleh buruknya fasilitas sekolah justru ikut mengadopsi simbol yang sama. Alice Cohen-Morzadec, juru bicara serikat mahasiswa Prancis, menegaskan bahwa aksi mereka bukan sekadar soal nasib sendiri, tapi bagian dari perlawanan global terhadap sistem kapitalisme dan kolonialisme yang menindas hak-hak dasar.
Dukungan juga datang dari lingkaran politik. Anggota Parlemen Eropa asal Italia, Mario Furore, mempertanyakan mengapa penggunaan bendera Palestina di jalanan dianggap kontroversial, sementara operasi militer Israel di Gaza dan Tepi Barat terus memakan korban. Ia menyinggung data yang menyebut puluhan ribu nyawa melayang sejak Oktober 2023 sebagai konteks yang tidak bisa diabaikan.
Namun, tidak semua pihak nyaman dengan pergeseran makna ini. Di Irlandia Utara, kemunculan simbol Palestina di tengah demonstrasi sempat memicu kekhawatiran akan membangkitkan kembali ketegangan historis antar-komunitas. Perdebatan pun muncul: apakah solidaritas global ini murni gerakan moral, atau justru politisasi simbol yang berisiko memecah belah?
Yang jelas, keffiyeh dan bendera Palestina telah bertransformasi dari sekadar identitas kultural menjadi bahasa universal perlawanan bagi generasi muda Eropa. Mereka tidak lagi bicara soal perang di Timur Tengah semata, tapi soal ketidakadilan yang mereka rasakan di halaman kampus dan jalanan kota sendiri.