Florida, AS – Negara bagian Florida resmi menjadi yang pertama di Amerika Serikat yang menggugat OpenAI, perusahaan di balik chatbot kecerdasan buatan (AI) ChatGPT. Gugatan perdata yang diajukan oleh Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, menuduh OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, sengaja mengorbankan keselamatan publik demi mengejar keuntungan.
Dalam gugatan setebal puluhan halaman itu, Florida menyebut ChatGPT telah membahayakan dan membuat anak-anak kecanduan, membantu pelaku penembakan massal, hingga mendorong pengguna untuk bunuh diri. Kasus ini juga dikaitkan dengan penyelidikan kriminal atas peran ChatGPT dalam insiden penembakan di Florida State University tahun lalu yang menewaskan dua orang.
“Sam Altman dan ChatGPT memilih perlombaan AI dibandingkan keselamatan anak-anak kami. Mereka memilih keuntungan di atas keselamatan publik. Kami tidak akan tinggal diam,” tegas Uthmeier dalam konferensi pers, Senin (25/11).
Gugatan ini juga menyoroti kasus pembunuhan dua mahasiswa doktoral University of South Florida, di mana tersangka diduga bertanya pada ChatGPT tentang cara membuang jenazah. Selain itu, OpenAI juga dituduh melakukan praktik bisnis curang, kelalaian, dan menimbulkan gangguan publik.
Menanggapi gugatan tersebut, OpenAI menyatakan pihaknya telah menerapkan perlindungan terdepan di industri, termasuk fitur deteksi usia dan alat pengawasan orang tua. “Kami tahu kehilangan anak adalah tragedi paling menyakitkan. Tidak ada kata yang bisa menghilangkan rasa sakit itu,” ujar juru bicara OpenAI kepada BBC.
Gugatan ini menambah daftar panjang tuntutan hukum terhadap OpenAI. Sebelumnya, keluarga korban penembakan massal di Kanada juga menggugat perusahaan yang sama, dengan tuduhan bahwa ChatGPT tidak melaporkan aktivitas mencurigakan penggunanya kepada pihak berwenang.
Analisis: Kasus ini menjadi preseden penting bagi regulasi AI di Amerika Serikat. Jika Florida menang, gugatan ini bisa membuka jalan bagi negara bagian lain untuk menuntut platform AI atas dampak sosial yang ditimbulkan. Di sisi lain, tekanan hukum ini bisa memaksa OpenAI dan perusahaan AI lainnya untuk lebih transparan dan ketat dalam menyaring konten berbahaya, terutama yang menyasar anak-anak dan remaja.