Situasi di Timur Tengah memanas drastis menyusul serangan roket dan drone yang dilancarkan kelompok Hezbollah ke markas militer Israel dekat Haifa. Tak butuh waktu lama, Israel langsung merespons dengan melancarkan serangan udara balasan ke Beirut, Lebanon, serta sejumlah wilayah di selatan dan timur negara itu pada Senin.
Hezbollah mengklaim, serangan mereka adalah balasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sekaligus upaya membela Lebanon dari agresi Israel. Mereka juga menegaskan ini adalah respons terhadap agresi Israel yang berlangsung selama 15 bulan dan desakan untuk mundur dari wilayah Lebanon yang diduduki. Namun, perlu dicatat, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan independen yang mengonfirmasi kematian Ali Khamenei. Klaim ini menimbulkan spekulasi bahwa narasi tersebut mungkin digunakan sebagai pemicu atau dalih di tengah eskalasi konflik.
Militer Israel tak tinggal diam, menyatakan akan menghantam Hezbollah di seluruh Lebanon. Mereka menyebut Hezbollah sebagai organisasi teror yang menghancurkan Lebanon dan mengancam Israel, sehingga eskalasi yang terjadi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kelompok tersebut. Israel bersumpah tidak akan membiarkan ancaman terhadap negaranya dan penduduk utara.
Insiden ini bukan hanya sekadar baku tembak biasa, melainkan eskalasi signifikan yang berpotensi menyeret wilayah ke kancah perang regional. Konflik ini diyakini melibatkan Amerika Serikat dan Israel di satu sisi, melawan Iran dan sekutunya di sisi lain. Lebih jauh, situasi ini tentu saja memperparah krisis ekonomi dan politik yang telah lama membelit Lebanon. Padahal, pada November 2024 lalu sempat ada gencatan senjata antara Hezbollah dan Israel, meski kerap dilanggar. Pemerintah Lebanon sendiri pernah berupaya melucuti senjata Hezbollah, namun ditolak mentah-mentah dengan alasan untuk melindungi negara dari ekspansionisme Israel.