Seorang pria bernama Tarik Kaidi berbagi kisah perjuangannya melawan gangguan bipolar dan skizofrenia melalui sepakbola. Pada 2013, Kaidi diamankan pihak berwenang di Inggris karena mengalami episode manik—kondisi di mana ia merasa sangat bersemangat dan tidak bisa dihentikan. Padahal, keluarganya melihat perilakunya mulai tidak terkendali. Ia kemudian dirawat di St Charles Mental Health Centre, London, selama 28 hari, dan harus menjalani pengobatan paksa.
Setelah dirawat, fase euforia berganti menjadi depresi berat. Pertunangannya batal, hubungan dengan pasangan kandas, dan ia merasa kehilangan semangat hidup. Namun, Kaidi menemukan jalan keluar melalui sepakbola. Bersama komunitas pasien gangguan jiwa, ia mendapat dukungan, persahabatan, dan tujuan hidup baru. Olahraga ini membantunya mengelola stres, membangun rutinitas, dan merasa kembali berguna.
Dampak bagi masyarakat: Kisah ini membuka mata bahwa olahraga, khususnya sepakbola, bisa menjadi terapi non-medis yang efektif bagi penderita gangguan mental. Di Indonesia, stigma terhadap penderita gangguan jiwa masih tinggi, dan akses ke terapi semacam ini masih terbatas. Kisah Kaidi bisa menjadi inspirasi untuk mengembangkan program olahraga sebagai alat rehabilitasi.