Selat Bab al-Mandeb yang memisahkan Afrika dengan Jazirah Arab menjadi jalur maut bagi para migran. Setiap tahunnya, ribuan orang nekat menyeberangi perairan berbahaya ini dengan perahu-perahu kecil yang tidak layak. Al Jazeera melaporkan bahwa tidak semua migran yang melintasi selat ini melarikan diri dari konflik di Yaman.
Faktanya, banyak dari mereka justru menuju Yaman dan kawasan Teluk untuk mencari pekerjaan. Kondisi ekonomi yang sulit di negara asal, terutama di kawasan Tanduk Afrika seperti Ethiopia dan Somalia, memaksa mereka mengambil risiko tinggi demi penghasilan yang lebih baik.
Selat Bab al-Mandeb dikenal memiliki arus laut yang kuat, cuaca ekstrem, dan sering menjadi jalur operasi penyelundup manusia. Para migran biasanya berangkat dari Djibouti atau Somalia menggunakan perahu nelayan yang penuh sesak. Perjalanan ini kerap memakan korban jiwa akibat kapal terbalik atau dehidrasi di tengah laut.
Dampaknya bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa tekanan ekonomi masih menjadi pendorong utama migrasi ilegal di berbagai belahan dunia. Indonesia sendiri memiliki pengalaman panjang dalam menangani migran dan pengungsi yang melintasi perairan untuk mencari kehidupan lebih baik. Isu ini juga menyoroti perlunya kerja sama internasional dalam melindungi hak-hak migran dan mencegah perdagangan manusia.