BURSA ASIA MELONJAK, SAHAM TEKNOLOGI AI JADI MOTOR PENGGERAK - Berita Dunia
← Kembali

BURSA ASIA MELONJAK, SAHAM TEKNOLOGI AI JADI MOTOR PENGGERAK

Foto Berita

Pasar saham Asia-Pasifik kompak menghijau pada Rabu (29/10), mengikuti reli di Wall Street yang dipicu optimisme investor terhadap raksasa teknologi pendorong boom AI. Di Amerika Serikat, Nasdaq Composite memimpin kenaikan dengan lonjakan 1,18 persen, disusul S&P 500 yang naik 0,6 persen dan Dow Jones yang tipis menguat 0,03 persen.

Lima dari saham 'Magnificent Seven' mencetak kenaikan, dengan Tesla melesat 4,04 persen, disusul Amazon 1,61 persen, Apple 0,93 persen, dan Alphabet 0,9 persen. Nvidia, perusahaan publik paling bernilai di dunia, ikut naik hampir 1 persen usai mengumumkan investasi 3 miliar dolar AS dalam penawaran ekuitas Meta. Sementara itu, Meta justru turun 1,64 persen dan Microsoft melemah 0,24 persen. Saham teknologi lain seperti AMD, Broadcom, dan Intel juga mencatatkan kenaikan signifikan masing-masing 5,45 persen, 4 persen, dan 3,61 persen.

Di kawasan Asia, KOSPI Seoul menjadi bintang dengan lonjakan 5,84 persen per pukul 03.00 GMT. Pemicunya adalah laporan kinerja kuartalan SK Hynix yang luar biasa — laba operasional produsen chip memori terbesar ketiga dunia itu melesat sekitar 630 persen secara tahunan menjadi 83,33 triliun won (sekitar 62,8 miliar dolar AS). Saham SK Hynix yang tercatat di Korea Selatan langsung meroket lebih dari 8 persen. Nikkei 225 Tokyo naik 1,26 persen, TAIEX Taipei menguat 1,32 persen, dan S&P/ASX 200 Sydney terangkat 0,11 persen.

Pelaku pasar kini menanti laporan keuangan kuartalan raksasa teknologi — Microsoft dan Alphabet pada Rabu, Amazon Kamis, dan Apple Senin depan — untuk menakar apakah investasi besar-besaran mereka di AI benar-benar mendatangkan cuan. Di sisi lain, raksasa AI Anthropic resmi mengajukan dokumen IPO yang dinanti-nanti, meski membukukan rugi bersih 80,7 miliar dolar AS pada paruh pertama 2026 dari pendapatan 16,3 miliar dolar AS. Gartner memproyeksikan investasi AI global menembus 2,7 triliun dolar AS pada 2026 dan 3,6 triliun dolar AS pada 2027, meski perdebatan soal potensi gelembung spekulatif ala dot-com 2000 masih menghantui.

Di tengah euforia bursa, harga minyak ikut naik sekitar 1 persen saat pasar Asia dibuka, dengan Brent diperdagangkan di kisaran 115 dolar AS per barel — melonjak 59 persen sejak konflik AS-Israel vs Iran dimulai, termasuk ketegangan Arab Saudi dengan Houthi Yaman. Bagi masyarakat Indonesia, reli saham teknologi ini bisa menjadi sinyal positif bagi investor ritel yang menaruh dana di reksa dana saham global atau instrumen berbasis teknologi. Namun, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan inflasi domestik dan biaya energi, sehingga pemerintah perlu mengantisipasi dampaknya terhadap subsidi dan daya beli.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook