Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja memulai tur kampanye selama 32 hari menjelang pemilihan sela (midterm) November mendatang. Langkah ini diambil di tengah posisinya yang sedang terjepit: kebijakan perang melawan Iran dan kondisi ekonomi yang sulit membuat popularitasnya merosot tajam.
Dalam kunjungannya ke Texas dan Oklahoma pada Kamis lalu, Trump berusaha keras meyakinkan pendukungnya bahwa pemerintahannya sukses besar. Ia bahkan memberi nilai 'A+' untuk kinerjanya sendiri, sambil menyalahkan media yang dianggap tidak adil dalam memberitakan pencapaiannya.
Namun, data lapangan berbicara lain. Survei terbaru dari AP dan NORC menunjukkan 71% warga Amerika menolak perang dengan Iran. Harga bahan bakar yang melambung membuat hampir separuh responden khawatir tidak bisa membeli makanan dan bensin. Hanya 26% yang menyetujui cara Trump menangani ekonomi.
Meski angka survei buruk, Trump tetap menjadi ujung tombak strategi Partai Republik. Ia mendesak pendukungnya untuk menganggap seolah-olah namanya ada di surat suara. Trump juga membanggakan kebijakan tarif impor yang diklaimnya menyelamatkan lapangan kerja manufaktur, meski kebijakan ini menuai kontroversi dan tantangan hukum karena dianggap melampaui kekuasaan presiden.
Menariknya, Trump juga menyinggung perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai 28 Februari lalu. Ia mengklaim tengah memastikan Iran tidak akan pernah mendapatkan senjata nuklir, meski gencatan senjata masih sulit terwujud.