Timur Tengah kembali bergolak hebat dengan laporan serangan udara intensif dan balasan rudal yang menyasar berbagai wilayah. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang juga melibatkan sejumlah negara Teluk, kini mencatat lonjakan korban sipil yang mengkhawatirkan. Lantas, seberapa parah situasi di lapangan?
Setidaknya 555 orang tewas akibat serangan AS-Israel di 131 wilayah di Iran, menurut laporan Palang Merah Iran. Ini terjadi di tengah gelombang serangan intensif dan balasan rudal Iran terhadap Israel serta aset-aset AS di kawasan tersebut. Serangan ini tak hanya menyasar pusat politik atau markas militer, namun juga merusak infrastruktur sipil dan menimbulkan korban jiwa.
Pada Senin pagi, misalnya, 35 orang tewas di Provinsi Fars, Iran selatan. Sementara di Tehran, lebih dari 20 orang kehilangan nyawa akibat serangan di Niloofar Square. Di Sanandaj, Iran tengah, dua orang tewas setelah beberapa bangunan perumahan di dekat kantor polisi setempat hancur. Kantor berita Tasnim melaporkan enam rudal AS-Israel jatuh di permukiman padat penduduk di kota itu.
Situs pengayaan nuklir Natanz Iran juga disebut-sebut menjadi target serangan udara AS-Israel pada hari Minggu. Duta Besar Iran untuk IAEA, Reza Najafi, membantah bahwa fasilitas tersebut digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir, menegaskan bahwa Natanz murni untuk tujuan damai. Ini menambah panas isu sensitif mengenai program nuklir Iran.
Kekerasan juga berdampak pada anak-anak. Korban tewas dari serangan Israel di sekolah putri di Minab pada hari Sabtu melonjak menjadi 180 orang. Tak hanya itu, Rumah Sakit Gandhi di Tehran juga mengalami kerusakan parah akibat rudal serupa pada hari Minggu, memaksa pasien dievakuasi.
Di sisi lain, Israel melaporkan sembilan orang tewas dan 11 lainnya hilang setelah serangan rudal Iran menghantam kota Beit Shemesh. Iran juga melancarkan serangan balasan ke berbagai negara Teluk seperti Qatar, Bahrain, Yordania, Oman, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, menyasar bandara, gedung perumahan, hingga hotel.
Eskalasi konflik ini jelas meningkatkan ketegangan regional ke level yang sangat mengkhawatirkan. Serangan yang kini meluas ke infrastruktur sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit, bukan hanya menelan korban jiwa tak berdosa, tetapi juga berpotensi memicu krisis kemanusiaan yang lebih besar. Perluasan target ke negara-negara Teluk juga menunjukkan potensi destabilisasi yang lebih luas, menyeret lebih banyak pihak ke dalam pusaran konflik berdarah di Timur Tengah.