Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump kembali menggebrak dengan rencana pengenaan tarif impor baru sebesar 25 persen untuk produk-produk asal Brasil. Langkah ini diumumkan oleh Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, pada Senin (24/3) malam waktu setempat. Greer menyebut tarif ini sebagai respons atas praktik perdagangan yang dinilai tidak adil, termasuk isu deforestasi ilegal, akses pasar etanol, dan praktik digital yang dinilai merugikan AS.
Investigasi yang dimulai sejak Juli lalu ini menggunakan Pasal 301 kebijakan perdagangan AS—senjata hukum yang memberi wewenang luas bagi Washington untuk menjatuhkan sanksi dagang sepihak. Dalam dokumen setebal 107 halaman yang dirilis Departemen Perdagangan AS, disebutkan bahwa praktik dagang Brasil 'tidak masuk akal dan membebani atau membatasi perdagangan AS'. Pemerintah Trump juga menyoroti perjanjian dagang Brasil dengan Meksiko dan India yang dinilai menciptakan insentif bagi perusahaan AS untuk memindahkan produksi ke luar negeri.
Menariknya, sejumlah produk penting seperti daging sapi, kopi, logam tanah jarang, energi, dan suku cadang pesawat justru dikecualikan dari tarif ini. Sementara itu, data menunjukkan AS sebenarnya menikmati surplus perdagangan dengan Brasil—pada Maret lalu, AS menjual barang senilai 3,3 miliar dolar ke Brasil, sementara hanya mengimpor 2,9 miliar dolar.
Langkah ini juga menggantikan tarif 50 persen yang sebelumnya dikenakan Trump pada banyak produk Brasil tahun lalu, di mana 40 persen di antaranya merupakan hukuman atas penuntutan hukum terhadap mantan Presiden Jair Bolsonaro, sekutu Trump. Di sisi lain, Gedung Putih baru saja menurunkan tarif impor aluminium, tembaga, dan baja tertentu dari 25 persen menjadi 15 persen, termasuk untuk alat pertanian seperti mesin pemanen.
Kebijakan ini muncul setelah Mahkamah Agung AS pada Februari lalu membatalkan penggunaan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) yang sebelumnya menjadi dasar pengenaan tarif global besar-besaran. Greer mengindikasikan bahwa ini baru permulaan—akan ada lebih banyak pengumuman tarif baru dalam beberapa pekan ke depan untuk mengejar defisit perdagangan yang disebutnya 'raksasa'.
Dampak bagi masyarakat: Jika tarif ini jadi diterapkan, harga kopi dan daging sapi Brasil di pasar AS bisa melonjak, yang pada akhirnya akan membebani kantong konsumen Amerika. Namun bagi Indonesia, ini bisa jadi peluang untuk mengisi celah pasar yang ditinggalkan Brasil, terutama di sektor kopi dan komoditas agrikultur lainnya. Selain itu, Brasil dan Vietnam juga tengah dalam penyelidikan serupa, yang menandakan perang dagang AS semakin meluas.