Konflik bersenjata di Sudan yang berkepanjangan telah melumpuhkan sektor industri negara tersebut. Data Kementerian Perindustrian Sudan menunjukkan sekitar 1.800 fasilitas industri rusak akibat perang, dengan 650 pabrik di antaranya hancur total. Kerugian ini bukan hanya soal bangunan, tetapi juga menghancurkan mata pencaharian ribuan pekerja dan memicu lonjakan harga barang bagi konsumen.
Salah satu contoh nyata dialami Mansour Gaily, pemilik pabrik manisan di Khartoum. Meski produksi kini mulai berjalan kembali, kapasitasnya baru mencapai 40 persen dari kondisi normal. Gaily mengaku merugi hingga 1 juta dolar AS akibat kehilangan mesin dan suku cadang. Senada dengan itu, Abdulelah Mohamed, pemilik pabrik plastik dan daur ulang, menyebut situasinya sebagai bencana. Ia menilai penghancuran dan penjarahan pabrik terjadi secara sistematis.
Selain infrastruktur, hambatan pemulihan juga datang dari krisis listrik, rusaknya jaringan transportasi, dan mahalnya biaya impor bahan baku. Sara Elfatih Khalil, CEO Al Teital Advance Industries, menegaskan bahwa pemulihan industri sangat bergantung pada stabilitas keamanan dan politik. Tanpa kepastian hukum dan perlindungan investasi, para pengusaha akan sulit membangkitkan kembali roda produksi yang menjadi tulang punggung ekonomi Sudan ini.