Kontroversi besar mengguncang dunia kriket internasional. Dewan Kriket Internasional (ICC) menuai kecaman keras setelah secara mengejutkan mengeluarkan Bangladesh dari ajang Piala Dunia T20 mendatang. Keputusan ini diambil lantaran Bangladesh menolak bertanding di India dengan alasan keamanan, sebuah sikap yang oleh banyak pihak dinilai sebagai standar ganda mengingat perlakuan ICC terhadap India di masa lalu.
Keputusan ICC membuang Bangladesh dari turnamen akbar itu telah memicu gelombang protes dari para mantan pemain, pakar, hingga asosiasi kriket dunia. Mereka menyebut momen ini sebagai "saat menyedihkan bagi olahraga" dan mempertanyakan integritas serta kredibilitas ICC sebagai badan pengatur. Akibatnya, posisi Bangladesh diisi oleh Skotlandia.
Permasalahan bermula dari keengganan Bangladesh untuk berangkat ke India karena kekhawatiran serius akan keamanan para pemainnya. Bangladesh mengajukan permohonan agar pertandingan mereka dipindahkan ke Sri Lanka, yang juga menjadi co-host turnamen. Namun, ICC menolak mentah-mentah permintaan tersebut, beralasan jadwal tidak mungkin diubah mengingat dekatnya waktu dimulainya turnamen pada 7 Februari.
Hal inilah yang memicu tuduhan standar ganda. Banyak pihak menunjuk pada kasus serupa di mana ICC bertindak jauh berbeda. Sebelumnya, India juga menolak bertandang ke Pakistan untuk turnamen ICC Champions Trophy dengan alasan keamanan. Kala itu, ICC justru memfasilitasi kesepakatan agar India bisa bermain di venue netral, yakni Dubai, Uni Emirat Arab, untuk semua pertandingan mereka termasuk final. Mantan kapten Pakistan, Shahid Afridi, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya di platform X, menegaskan bahwa "para pemain dan jutaan penggemar Bangladesh berhak dihormati – bukan standar ganda." Ia menyerukan ICC untuk membangun jembatan, bukan menghancurkannya.
CEO World Cricketers’ Association (WCA), Tom Moffat, juga menyuarakan kekhawatirannya. Menurutnya, keputusan ini menyoroti masalah signifikan dalam model operasional kriket global dan kurangnya konsultasi berarti dengan para pemain. "Jika dibiarkan, masalah ini akan melemahkan kepercayaan, persatuan, dan pada akhirnya kesehatan serta masa depan olahraga yang kita cintai," ujarnya.
Keputusan kontroversial ini bukan hanya merugikan Bangladesh yang kehilangan kesempatan berlaga di panggung dunia, tetapi juga berpotensi memperdalam keretakan dalam komunitas kriket global. Ini menciptakan preseden buruk yang bisa mengikis kepercayaan antarnegara anggota terhadap netralitas dan keadilan badan pengatur olahraga. Bagi jutaan penggemar kriket di Bangladesh, ini adalah pukulan telak yang merampas hak mereka untuk melihat tim kesayangan mereka berkompetisi. Insiden ini juga bisa menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang pengaruh dan kekuasaan negara-negara besar dalam pengambilan keputusan di kancah olahraga internasional. ICC, sebagai badan tertinggi, diharapkan mampu menunjukkan konsistensi dan transparansi dalam setiap kebijakannya demi menjaga semangat fair play dan persatuan dalam olahraga kriket.